Share

Terpidana Mati Tuntut Negara karena Pemberitahuan Singkat Eksekusi, Minta Ganti Rugi Rp3 Miliar

Antara, · Jum'at 05 November 2021 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 18 2497245 terpidana-mati-tuntut-negara-karena-pemberitahuan-singkat-eksekusi-minta-ganti-rugi-rp3-miliar-vVl8mR1u9v.jpg Ilustrasi eksekusi mati (Foto: Antara/Shutterstock)

TOKYO - Dua terpidana mati di Jepang menggugat negara itu karena para tahanan diberi tahu hanya beberapa jam sebelum hukuman mati dilaksanakan.

Menurut berita media lokal, dua orang tahanan terpidana mati menuntut perubahan dan meminta  kompensasi atas dampak praktik "tidak manusiawi" itu.

Hukuman mati di Jepang dilakukan dengan cara digantung, dan praktik tidak memberi tahu narapidana tentang waktu pelaksanaannya sampai sesaat sebelum eksekusi telah lama dikecam oleh organisasi-organisasi internasional untuk hak asasi manusia (HAM).

Baca juga: Terpidana Mati Kasus Pembunuhan Disuntik Mati Usai Jalani 30 Tahun Masa Hukuman

Hal itu dinilai tidak manusiawi karena tekanan yang diberikan pada para tahanan terpidana mati, yang setiap hari bisa menghadapi hari terakhir mereka.

Pada Kamis (4/11), dalam langkah yang diyakini sebagai yang pertama, dua tahanan yang dijatuhi hukuman mati mengajukan gugatan di pengadilan distrik di kota barat Osaka dengan mengatakan praktik (pemberitahuan singkat) itu ilegal karena tidak memberikan waktu kepada tahanan untuk mengajukan keberatan.

Baca juga: Napi Ini Minta Pendeta Pegang Tangannya Sebelum Disuntik Mati

Menurut berita media lokal pada Jumat (5/11), kedua tahanan terpidana mati itu pun menuntut praktik tersebut harus diubah dan meminta kompensasi 22 juta yen (Rp3 miliar).

"Terpidana mati hidup dalam ketakutan setiap pagi bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir mereka," kata seorang pengacara penggugat seperti dikutip oleh kantor berita Kyodo.

"Ini sangat tidak manusiawi," lanjutnya.

Kyodo melaporkan bahwa pengacara penggugat mengatakan tidak ada undang-undang yang mewajibkan tahanan diberitahu tentang eksekusi mereka hanya pada hari pelaksanaannya. Pengacara juga mengatakan bahwa praktik tersebut bertentangan dengan hukum pidana Jepang.

Para pengacara yang bertanggung jawab atas kasus gugatan itu belum dapat dimintai komentar ketika dihubungi oleh Reuters.

Seorang juru bicara di Kementerian Kehakiman Jepang menolak mengomentari tentang kasus tersebut atau tentang cara hukuman mati dilakukan.

Hukuman mati di Jepang biasanya dijatuhkan sehubungan dengan kasus pembunuhan, dan hukuman mati mendapat dukungan yang sangat tinggi di kalangan masyarakat umum negara itu.

Tidak ada eksekusi yang dilakukan di Jepang pada 2020, yang merupakan tahun pertama tanpa eksekusi sejak 2011, dan belum ada hukuman mati yang dilaksanakan pada 2021.

Saat ini ada sekitar 110 orang yang dijatuhi hukuman mati di Jepang, berdasarkan berita media lokal.

Kementerian Kehakiman Jepang belum dapat dimintai komentar untuk mengonfirmasi angka tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini