ISTANBUL - Orang Yahudi terakhir Afghanistan, yang melarikan diri dari pemerintahan Taliban bulan lalu, meminta USD10 juta (Rp142,5 miliar) untuk diterbangkan ke Israel, serta uang untuk membeli mantel musim dingin, demikian dilaporkan media Israel Haaretz.
Zebulon Simantov, (62 tahun), diterbangkan ke sebuah negara yang dirahasiakan karena alasan keamanan, oleh seorang pengusaha Israel-Amerika, Moti Kahana. Dia saat ini berada di Istanbul, Turki dan tinggal di sebuah hotel di kota itu.
BACA JUGA: Ledakan Bom di Masjid saat Salat Jumat, 37 Orang Meninggal
Moti mengatakan kepada Haaretz pada Agustus bahwa Zabulon awalnya setuju untuk dievakuasi dari Afghanistan dengan syarat menerima "pembiayaan pribadi."
"Saya tidak membayar orang Yahudi untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri. Saya di sini untuk membantu. Saya di sini tidak membayar Anda untuk menyelamatkan hidup Anda," kata Moti sebagaimana dilansir Middle East Monitor.
Menurut Moti, Zebulon "mengaku memiliki beberapa hutang yang harus dia bayar sebelum dia pergi”.
“Kami tidak dalam bisnis menutupi hutang orang. Kami dalam bisnis menyelamatkan nyawa orang jika mereka perlu diselamatkan," tegas Rabi Mendy Chitrik, ketua Aliansi Rabbi di Negara-negara Islam yang berbasis di Istanbul.
BACA JUGA: PBB: Pemukiman Yahudi di Israel Blokir Air ke Warga Palestina
Moti saat ini menawarkan untuk mengatur penerbangan untuk membawa Zebulon ke Israel. Dia awalnya menerima tawaran itu, namun kemudian berubah pikiran dan meminta untuk diterbangkan ke Amerika Serikat (AS) sebagai gantinya.
Namun, Moti memperingatkan bahwa Zebulon tidak ada dalam daftar prioritas AS dan proses visa bisa memakan waktu hingga dua tahun.
Oleh karena itu, Zebulon meminta USD10 juta untuk diterbangkan ke Israel, sebagai kompensasi atas kerugian yang dideritanya ketika dievakuasi dari Afghanistan, serta sejumlah uang untuk mantel musim dingin.
Dia juga akhirnya mengabulkan permintaan istrinya, yang berbasis di Israel, untuk bercerai bulan lalu setelah menolak selama lebih dari 20 tahun.
"Saya bukan pengasuh bayi," kata Moti menanggapi sebagai tanggapan atas permintaan Zebulon.
"Saya tidak bisa terus mendanai dan mendukung Zebulon di Istanbul untuk waktu yang tidak terbatas, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak akan membawanya kembali ke Kabul," tambahnya.
(Rahman Asmardika)