Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Peristiwa Serangan Joker di Kereta Bawah Tanah, Tekanan Hidup yang Berat Jadi Pemicu?

Tentya Noerani Dewi Richyadie , Jurnalis-Minggu, 14 November 2021 |13:28 WIB
Peristiwa Serangan Joker di Kereta Bawah Tanah, Tekanan Hidup yang Berat Jadi Pemicu?
Serangan joker di kereta bawah tanah di Jepang (Foto: Reuters)
A
A
A

JEPANG - Serangan kereta api yang mengakibatkan 17 orang terluka mengejutkan Jepang, pada Minggu (31/10) lalu pukul 20:00 waktu setempat.

Sebagian besar perhatian seputar serangan itu difokuskan pada tersangka pelaku, yang terlihat seperti mengenakan jas warna ungu mirip kostum Joker.

Jepang adalah negara yang sangat aman. Tokyo diketahui sangat berberda dari setiap kota besar lainnya di dunia. Jenis kejahatan kecil yang biasa terjadi di kota lain, seperti di London atau New York, tidak ada di sana.

Ketika serangan kekerasan bahkan tindak pembunuhan terjadi baru-baru ini di kereta bawah tanah yang penuh itu memicu alarm tanda bahaya. Serangan yang disebut "Joke attack on Halloween night" telah membuat banyak penumpang kereta bertanya mengenai keamanan mereka untuk menggunakan kereta bawah tanah. Disisi lain, pihak berwenang berusaha keras untuk meyakinkan warga Tokyo bahwa semuanya sedang dilakukan untuk tetap menjaga keamanan.

Baca juga: Serangan Pisau di Kereta, 17 Terluka, Pelaku Ditangkap di Tempat Kejadian

Serangan ini juga memicu spekulasi media mengenai tersangka pelaku dan apakah mungkin ada orang lain "di luar sana" yang seperti dia. Kejadian ini memiliki banyak kemiripan dengan film Joker, mulai dari setting kereta api dan kostum "Joker" yang dikenakan oleh terdakwa berusia 24 tahun itu.

Terdakwa dilaporkan mengatakan kepada interogatornya bahwa dia "menyembah karakter Joker" dan ingin "membunuh sebanyak mungkin orang".

Baca juga: Saksi Mata: Pelaku Penikaman 17 Orang di Kereta Mengenakan Kostum Joker

Dilansir dari BBC News, psikolog kriminal mengatakan bahwa tujuan sebenarnya dari kostum dan waktunya bukanlah untuk meniru, tetapi untuk menarik perhatian pada kemarahan yang dia lakukan. "Saya pikir dia ingin menonjol," kata Profesor Yasuyuki Deguchi seorang psikolog kriminal di Universitas Tokyo Mirai.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement