Pria yang melakukan serangan tahun 2008 itu berasal dari keluarga elit yang memiliki tekanan tinggi. Tapi dia gagal dalam ujian masuk universitas dan berakhir dengan pekerjaan kasar. Sebelum melakukan serangan, dia sudah mencoba bunuh diri dan memposting pesan di internet yang menguraikan rencananya untuk membunuh orang lain.
"Ini seperti terorisme, tapi bukan terorisme," ujar kriminolog lain yang tidak ingin namanya disebutkan.
“Itu ulah orang biasa atau orang lemah, orang yang pernah di-bully. Mereka cenderung menumpuk stres. Mereka memiliki keinginan untuk bunuh diri, jadi mereka berpikir 'jika saya akan bunuh diri, sebaiknya saya membawa orang lain bersama saya'. Mereka terutama ingin menyalahkan orang lain atas situasi yang mereka hadapi," lanjutnya.
Jepang sangat terkenal dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Tetapi agresi dan jenis perilaku kriminal lainnya sangat rendah. Orang Jepang cenderung mengubah agresi ke dalam. Jadi itulah salah satu alasan mengapa perilaku agresif sangat rendah di negara ini. Namun, ada persepsi bahwa serangan seperti ini semakin sering terjadi di Jepang. Ada tiga serangan terhadap sistem kereta bawah tanah Tokyo sejak Agustus.
Meski kejadian ini terlihat seperti salah satu percobaan serangan peniru. Namun, para ahli mengatakan selama 50 tahun terakhir kekerasan laki-laki telah menurun secara dramatis, dan bahwa Tokyo tetap menjadi salah satu tempat teraman di dunia.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.