Peristiwa itu berhasil membuat Mataram menguasai Jepara, yang sebelumnya begitu susah dilakukan. Hal ini disebabkan karena sebuah benteng kerajaan yang kokoh dan adanya penjagaan ketat, dari para prajurit hebat.
Pada saat Mataram telah memporak-porandakan benteng Kerajaan Kalinyamat, kerajaan di Jepara ini sudah tidak dipimpin oleh Sang Ratu, tetapi oleh Pangeran Arya Jepara (anak Sultan Maulana Hasanudin dari Kesultanan Banten. Ia tercatat pernah berusaha menduduki tahta Banten dan berhasil menduduki Bawean, ini berhasil berkuasa sampai tahun 1599.
Kekuasannya berhasil berakhir karena serangan Panembahan Senopati dari Mataram ini. Akibat gelombang ekspansi dari Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati, Jepara berhasil dikuasai Mataram dan Kota Kalinyamat pun dihancurkan. Serangan Panembahan Senopati ini tidak diketahui tentang nasib keluarga penguasa dan orang-orang penting Jepara waktu itu. Sejak saat itu, Jepara kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram, dengan dipimpin oleh pejabat setingkat bupati yang ditunjuk oleh Kesultanan Mataram.
Versi kedua dari Kutho Bedah, berarti kota yang meledak atau runtuh. Hal ini karena tempat tersebut dulunya merupakan bagian dari kota Kerajaan Kalinyamat dan wilayah tersebut berada di dalam tembok benteng Kerajaan Kalinyamat. Selain itu di masa penjajahan, kota ini juga pernah diserang bom oleh Belanda, sehingga luluh lantak. Maka atas peristiwa bombardir dari kaum kolonial, kota disebut kota yang runtuh, dalam bahasa disebut Kutho Bedah.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.