Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jepang Ubah Keraguan Terhadap Vaksinasi Jadi Keberhasilan, Ini Caranya

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 23 November 2021 |18:05 WIB
Jepang Ubah Keraguan Terhadap Vaksinasi Jadi Keberhasilan, Ini Caranya
Foto: Reuters.
A
A
A

TOKYO - Jepang berhasil mengubah tingkat vaksinasi Covid-19 yang rendah karena keragu-raguan masyarakat menjadi sebuah keberhasilan dalam waktu hanya beberapa bulan. 

Hanya tujuh pekan sebelum Olimpiade Tokyo yang berlangsung pada Juli 2021, baru 3,5% penduduk Jepang yang mendapat dosis lengkap vaksin Covid-19. Namun, situasi itu berubah dalam waktu enam bulan. 

BACA JUGA: Jepang Catat Nol Kematian Covid untuk Pertama Kali dalam 15 Bulan

Tidak saja Jepang berhasil mengatasi kekacauan peluncuran program vaksinasi pada tahap awal, negara itu juga berhasil mencapai persentase vaksinasi penduduk lebih tinggi dibanding hampir semua negara.

Kini sekira 76% penduduk Jepang telah mendapat vaksinasi penuh.

Kuncinya adalah Olimpiade.

Masih ingat pada Juli lalu ketika terjadi demonstrasi besar menuntut Olimpiade dibatalkan?

Saat itu muncul kemarahan dan ketakutan nyata bahwa pesta olahraga tersebut bisa menjadi ajang penyebaran virus.

BACA JUGA: Mulai Senin, Jepang Longgarkan Peraturan Perbatasan Terkait Pandemi

Karena takut hajatan besar itu akan berantakan, pihak berwenang akhirnya segera bertindak.

Tentara dikerahkan dan sebelum awal Juli, satu juta dosis vaksin diberikan setiap hari.

Bukan hanya saja terobosan logistik yang mengejutkan, tapi juga kesediaan warga Jepang untuk divaksinasi.

Pada kelompok umur 80 tahun ke atas, 95% warga sudah mendapat vaksinasi - tidak ada keragu-raguan pada kelompok umur tersebut.

Tapi hal itu tak diperkirakan sebelumnya.

Ketakutan melawan keragu-raguan

Jepang telah lama mengalami keragu-raguan dalam hal vaksinasi. Pada Januari, survei menunjukkan mayoritas penduduk merasa skeptis terhadap vaksin Covid yang baru dikembangkan.

Lantas apa yang terjadi?

Sejumlah ahli berpendapat kekacauan pada tahap awal sebenarnya berdampak positif.

 "Pada awalnya, terdapat kekurangan suplai vaksin," kata Profesor Kenji Shibuya, direktur riset di Tokyo Foundation for Policy Research. "Hal itu mendorong semacam mentalitas kelangkaan, khususnya di kalangan penduduk usia lanjut."

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement