Filipina Tuduh China Intimidasi Laut China Selatan yang Disengketakan

Agregasi VOA, · Rabu 24 November 2021 05:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 18 2506468 filipina-tuduh-china-intimidasi-laut-china-selatan-yang-disengketakan-F15uDEe8kw.jpg Kapal China terlihat di Laut China Selatan yang disengketakan (Foto: Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea/AP)

FILIPINA - Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, Selasa (23/11), menuduh pasukan penjaga pantai China melakukan "intimidasi dan pelecehan" setelah sejumlah personel Angkatan Laut Filipina direkam dan difoto sedang menurunkan barang di Laut China Selatan yang disengketakan.

Lorenzana mengatakan dua kapal sipil yang diawaki oleh personel Angkatan Laut Filipina melakukan upaya lain untuk mencapai pasukannya di Dangkalan Thomas Kedua, dan tiba di lokasi "tanpa insiden yang tidak diinginkan".

"Namun tiga orang di perahu karet yang dikerahkan oleh kapal penjaga pantai China di dekatnya mengambil foto dan video saat "personel dan kargo" turun dari kapal-kapal itu," terangnya.

  Baca juga: Armada 220 Kapal China Satroni Zona Ekonomi Filipina di LCS

"Saya telah berkomunikasi dengan duta besar China bahwa kami menganggap tindakan ini sebagai bentuk intimidasi dan pelecehan," tambahnya.

Kedutaan China di Manila belum menanggapi permintaan komentar dari kantor berita AFP.

 Baca juga:  Militer China Latihan di Laut China Selatan, Taiwan Keluarkan Peringatan

Insiden pada Selasa (23/11) terjadi sehari setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam gejolak terbaru di laut itu pada KTT regional Asia yang diselenggarakan oleh Presiden China Xi Jinping.

"Kami membenci kejadian baru-baru ini di Dangkalan Ayungin dan mengamati perkembangan serupa lainnya dengan keprihatinan serius," kata Duterte dalam pertemuan tersebut, menggunakan nama Filipina untuk dangkalan tersebut.

"Ini tidak baik untuk hubungan antara negara kita dan kemitraan kita,” lanjutnya.

Pernyataan Duterte luar biasa kuat untuk seorang pemimpin yang telah memupuk hubungan yang lebih hangat dengan Beijing sejak mengambil alih kekuasaan pada 2016 dengan harapan mendapatkan investasi dan perdagangan yang dijanjikan.

Ketegangan di perairan yang kaya sumber daya alam itu telah meningkat dalam sepekan terakhir setelah kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke kapal-kapal Filipina yang mengirimkan pasokan ke pasukan marinirnya di Dangkalan Thomas Kedua di Kepulauan Spratly yang diperebutkan.

Manila menyatakan kemarahannya atas serangan yang memaksa kapal-kapal Filipina itu untuk membatalkan misi mereka. Namun Beijing mengatakan kapal-kapal itu telah memasuki perairannya tanpa izin.

China mengklaim hampir semua jalur perairan itu. Klaim China atas perairan yang dilintasi perdagangan bernilai triliunan dolar setiap tahunnya itu bersaingan dengan klaim-klaim dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Beijing telah mengabaikan putusan Pengadilan Arbitrase yang berbasis di Den Haag pada 2016 yang menyatakan bahwa klaim historis China tidak berdasar atas jalur perairan itu.

Setelah China menduduki karang Mischief pada pertengahan 1990-an, Filipina menempatkan kapal Angkatan Lautnya di dekat Dangkalan Thomas Kedua untuk menegaskan klaim teritorial Manila. Sejumlah anggota pasukan marinir Filipina di tempatkan di sana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini