Kala itu, Medan dikenal bukan wilayah yang enteng bagi polisi jujur dan tak bisa kompromi. Sebelum mengemban bidang reserse itu, Hoegeng memiliki pengalaman bertugas di wilayah Jawa Timur sebagai Kepala Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN) atau kini dikenal sebagai bidang intelijen di kepolisian.
Ketika Hoegeng tiba di Medan untuk pertama kali, ia dihadapkan dengan pengusaha setempat yang menyiapkan 'upacara penyambutan' terhadap kehadiran pejabat polisi baru di wilayah itu. Hoegeng disuguhkan sebuah rumah beserta kendaraan untuk dirinya dan keluarga selama di Medan. Bahkan, panitia penyambutan telah menyiapkan sebuah hotel untuknya beristirahat. Namun, semua itu ditolak secara halus, termasuk sejumlah perabotan rumah tangga yang dikirimkan ke rumah dinasnya di Medan.
Usai ditarik kembali ke Jakarta pada 1960, karir Hoegeng sebagai polisi sempat tak menentu. Dia disebutkan akan menjadi Kadit Reskrim Komdak Metro Jakarta (nama lama Polda Metro Jaya), namun jabatan itu tak kunjung diperolehnya. Pasalnya,kala itu sedang terjadi perpecahan di tubuh kepolisian.
Tetapi tak menunggu lama, dia dipercaya Soekarno dan Menteri Koordinator Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata, Jenderal AH Nasution untuk menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada 19 Januari 1961. Kala itu, sosok Hoegeng dinilai cocok untuk mengemban tugas utama organisasi tersebut sehingga tak banyak diintervensi oleh pihak-pihak lain.
"Meskipun Papi pernah menjadi menteri dan Kapolri, kami hidup dalam ekonomi yang pas-pasan. Bahkan adakalanya kekurangan," ucap Putra Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan.
Sejak berhenti sebagai Kapolri hingga tahun 2001, uang pensiun Hoegeng hanya sekitar Rp10 ribu per bulan. Belum lagi, jumlah tersebut masih harus dipotong dengan urusan-urusan lain. Baru pada 2001, ada perubahan surat keputusan sehingga uang pensiun Hoegeng naik jadi Rp1,17 juta per bulan.
"Tapi setelah Papi meninggal pada 2004, Mami hanya menerima separuh karena Mami pensiunan janda Kapolri," tambah Aditya.
Saat mengemban jabatannya dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri kapolri.
“Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi,” ucap Hoegeng kepada istrinya.
Kepada anak-anaknya, Hoegeng juga bersikap tegas dan tanpa kompromi. Dia tak ingin anak-anaknya hidup manja dan menggantungkan diri pada jabatan ayahnya. Untuk mengajarkan kemandirian dan kerja keras, Hoegeng mengizinkan anak-anaknya berjualan koran dan kue. Anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara
Sebagai pejabat negara dan mantan Kapolri, Hoegeng tak memiliki apa-apa sampai wafatnya, kecuali kejujuran itu sendiri. Kisah hidup dan teladan Hoegeng Iman Santoso tentu bisa menjadi cermin perlunya sosok polisi yang bersahaja, terbuka, jujur, profesional, tanpa kompromi, dan anti-KKN. Keteladanan seorang polisi seperti Hoegeng diperlukan untuk mendorong perubahan.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.