Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Membedah Mitos Keberaksaraan Orang Jawa

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 02 Desember 2021 |09:06 WIB
Membedah Mitos Keberaksaraan Orang Jawa
Ilustrasi (Foto : Antara)
A
A
A

MITOS bersifat universal. Namun, di antara beragam topik itu ternyata terdapat mitos tertentu yang relatif jarang ditemui di tengah masyarakat alias tak semua masyarakat di dunia memiliki narasi mitos ini. Salah satunya ialah mitos keberaksaraan. Topik mitos ini bercerita tentang asal-usul lahirnya aksara atau budaya literasi dalam sebuah masyarakat.

Sementara itu bicara budaya keberaksaraan atau tradisi literasi sendiri, jelas sering disebut sebagai ciri-ciri atau pattern dari fase peradaban (civilization) dalam sejarah masyarakat manusia.

Mengutip Indonesia.go.id tulisan Waskito Giri Sasongko, Indonesia khususnya orang Jawa, bisa dikatakan cukup beruntung karena memiliki mitos keberaksaraan itu. Demikianlah, catatan Heddy Shri Ahimsa-Putra (2016) dalam artikel Ha-Na-Ca-Ra-Ka Aji Saka, Mitos Keberaksaraan, Mitos Peradaban.

Tentu sudah banyak tafsiran seputar mitos Aji Saka. Ahimsa bisa jadi juga tidak memberikan pembacaan dan tafsiran baru, namun ia setidaknya menawarkan piranti baru untuk mendekati mitos sebagai kajian antropologi. Melalui pendekatan strukturalisme, plus mendekati pada bagian-bagian atau unsur-unsur pembentuk dari keseluruhan narasi legenda Aji Saka, Ahimsa membangun kerangka tafsirannya melalui paradigma evolusi kebudayaan rumusan EB Tylor.

Ada dua versi mitos sebagai materi analisisnya. Oleh Ahimsa, narasi Aji Saka ini dibagi menjadi tiga episode. Pertama, episode Aji Saka mengembara. Kedua, episode Aji Saka mengalahkan raja zalim dan kemudian mengutus abdinya mengambil pusaka. Dan terakhir atau ketiga, episode Aji Saka menuliskan kisah tragis kedua abdinya yang setia itu, Dora dan Sembada.

Dari sana ia kemudian mengikuti paradigma evolusi kebudayaan EB Tylor, yaitu savageri, barbarism, dan civilization, dan memaparkan tahap-tahap evolusi kebudayaan di Jawa, yang langsung atau tidak, terdokumentasikan dalam narasi mitos Aji Saka tersebut.

Tahap ‘savagery’ ditandai oleh kehidupan yang nomaden, masih berpindah-pindah tempat. Manusia belum mengenal bercocok tanam. Manusia pun belum sanggup mendomestifikasi binatang, sehingga juga belum dikenal peternakan maupun penggembalaan. Kehidupan manusia saat itu masih ditandai oleh aktivitas berburu, meramu, dan mengumpulkan makanan.

Fase ‘savagery’ ini direpresentasikan oleh episode pengembaraan Aji Saka, bersama dua abdinya, Dora dan Sembada. Konon, mereka berasal dari negeri antah berantah atau negeri atas angin. Sengaja pergi mengembara hingga kemudian Aji Saka tiba menginjakan kakinya di Tanah Jawa.

Episode berikutnya adalah episode Aji Saka mengalahkan raja zalim. Oleh Ahimsa, fase ini ditafsirkan sebagai simbolisasi evolusi budaya masyarakat Jawa menuju tahap berikutnya, yaitu fase ‘barbarism’.

Sebagaimana dikatakan Tylor, pada tahap ‘barbarism’ ini masyarakat manusia sudah mulai hidup dengan cara menetap. Kehidupan mereka mulai mengenal seni bercocok tanam dan juga beternak. Pada fase ini memungkinkan masyarakat manusia membangun sebuah organisasi sosial yang berbeda corak dan karakteristiknya dengan saat kehidupan mereka masih bersifat nomad.

Ya, dikisahkan sang raja raksasa yang dikalahkan oleh Aji Saka ini, laksana sosok Leviathan bagi bangsa Eropa. Raja raksasa bernama Dewatacengkar, bukan hanya dilukiskan sebagai penguasa zalim, dia juga mau memangsa rakyatnya sendiri (kanibal).

Merujuk buku Makna Simbolik Legenda Aji Saka karya Slamet Riyadi (2007), disebutkan bahwa perilaku Leviathan asal Medhangkamulan ini memang telah disimbolkan oleh namanya sendiri, Dewatacengkar. Dewata memiliki sinonim arti dengan kata “dewa”. Artinya ‘penguasa alam’. Sedangkan “cengkar” artinya 'tandus' yang mengakibatkan 'kemiskinan'.

Lebih jauh, menurut Riyadi, nama Dewatacengkar menyimbolkan 'penguasa yang miskin budaya', di mana bisa berarti juga sebagai 'kebodohan' atau 'keterbelakangan' .

Wajar saja, jika personifikasi Dewatacengkar lantas muncul dalam rupa sosok raksasa. Ini tentu saja tak terlepas dari kontruksi dunia wayang dalam budaya Jawa. Raksasa selalu diidentikkan sebagai simbol kekejaman, keserakahan, kebiadaban, dan keangkaramurkaan. Singkat kata, raksasa selalu menjadi simbol segala keburukan dan bukan simbol kemanusiaan dan keadaban.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement