Di sini menarik dicatat ialah bagaimana cara Aji Saka mengalahkan sang raja zalim itu. Melalui ikat kepala Aji Saka, yang konon dikisahkan bisa melebar dan memanjang, sehingga kemudian mendesak sang raja raksasa itu hingga terlempar jatuh ke laut. Raja raksasa itu berubah jadi buaya putih dan pada akhirnya mati.
Ikat kepala Aji Saka, lagi-lagi seturut Ahimsa, jelas bisa dilihat sebagai simbolisasi dari kekuatan akal-budi dan pikiran manusia. Melalui akal budi dan pikiran yaitu produk khazanah ilmu pengetahuan dan kebijakan inilah, Aji Saka akhirnya berhasil mengalahkan dan menyingkirkan raja zalim. Peristiwa ini juga dapat dimaknai sebagai simbolisasi kemenangan kearifan atas kebodohan, pengetahuan atas prasangka, kebajikan atas kekejaman, kebaikan atas keburukan.
Kembali pada teks mitos. Pascamatinya Dewatacengkar maka dikisahkan Aji Saka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan. Syarat menjadi raja ialah dimilikinya sebuah pusaka.
Ya, seperti diketahui dalam tradisi raja-raja di Nusantara, pusaka ialah salah satu atribut penting seorang penguasa, terlebih bagi raja. Aji Saka sudah memiliki pusaka itu. Hanya saja pusaka itu masih disimpan di Pulau Majeti, dibawa oleh salah satu abdinya bernama Sembada.
Maka disuruhlah abdi satunya, yaitu Dora, mengambil pusaka tersebut. Aji Saka lupa akan pesannya kepada Sembada dahulu, bahwa abdinya yang ditinggal di Pulau Majeti pernah dilarang memberikan pusaka itu kepada siapapun, kecuali kepada Aji Saka sendiri.
Walhasil, kelalaian Aji Saka membuat mereka saling bertikai. Itulah yang terjadi pada Dora dan Sembada. Masing-masing merasa benar dan bersetia menjalankan perintah tuannya. Kelalaian ini membuat mereka yang selama ini dikenal sangat setia pada Aji Saka menjadi saling bertikai dan membunuh. Kedua abdi setianya ini sama-sama berakhir jadi mayat, mati sampyuh ‘mati bersama’ jadi “bathanga”.
Menyesali dan merefleksikan momentum itu, Aji Saka menuliskan kisah perselisihan dua abdi setianya itu. Menariknya, kalimat-kalimat yang ditulis bukan hanya menyajikan kisah peristiwa tragis itu, tetapi juga sekaligus merupakan gabungan dari suku-suku kata pada aksara bahasa Jawa.
Ha-Na-Ca-Ra-Ka (Ada utusan)
Da-Ta-Sa-Wa-La (Saling berselisih pendapat)
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (Sama-sama sakti)
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (Sama-sama menjadi mayat)