Share

Sebelum Meletus, PVMBG Catat Aktivitas Magma ke Puncak Semeru Sangat Rendah

Arif Budianto, Koran SI · Minggu 05 Desember 2021 09:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 05 340 2512113 sebelum-meletus-pvmbg-catat-aktivitas-magma-ke-puncak-semeru-sangat-rendah-wnuuk6CZE5.jpg Gunung Semeru meletus (Ist)

BANDUNG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menyatakan, aktivitas kegempaan di Gunung Semeru didominasi gempa permukaan. Gempa vulkanik yang biasanya menjadi penyebab letusan akibat magma tercatat sangat rendah.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Andiani mengatakan, sebelum terjadi guguran awan panas, pihaknya merekam gempa permukaan.

Selama 1 hingga 30 November 2021, gempa-gempa permukaan mendominasi,berupa gempa letusan dengan rata-rata 50 kejadian per hari. Sedangkan gempa guguran pada 1 dan 3 Desember 2021, masing-masing empat kali kejadian.

"Sedangkan gempa-gempa vulkanik seperti gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tremor yang mengindikasikan kenaikan magma ke permukaan Gunung Semeru, terekam dengan jumlah sangat rendah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/12/2021).

Hal ini juga yang diprediksi menjadi karakteristik erupsi Gunung Semeru. Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, yakni berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukan kubah lava atau lidah lava baru.

Baca Juga : Sebelum Gunung Semeru Meletus, Air Sungai Ini Berubah Warna

"Penghancuran kubah atau lidah lava ini yang mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru," ujarnya.

Berdasarkan pantauan PVMBG selama 1 hingga 30 November 2021, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati hembusan gas dari kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 20-32°C.

Erupsi masih terjadi tidak menerus, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 300 hingga 600 m dari atas kawah/puncak.

Pada 1 Desember 2021 terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1700 m dari puncak, atau 700 m dari ujung aliran lava, dengan arah luncuran ke tenggara. Pasca kejadian awan panas guguran terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncur tidak teramati.

Pada 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir, kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 km dari puncak atau 2 km dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan), tetapi hingga saat ini sebaran dan jarak luncur detail belum dapat dipastikan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini