Share

PBB dan AS Kecam Militer Myanmar Usai Protes Berakhir Mematikan

Susi Susanti, Okezone · Senin 06 Desember 2021 15:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 06 18 2512714 pbb-dan-as-kecam-militer-myanmar-usai-protes-berakhir-mematikan-trvwS93hzZ.jpg Demonstrasi menentang militer Myanmar (Foto: reuters)

YANGONPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Myanmar telah mengutuk aksi militer Myanmar yang menabrak pengunjuk rasa dan menembaki dengan peluru tajam yang menyebabkan kematian dan banyak orang terluka.

“Serangan yang dilaporkan terhadap sejumlah warga sipil tak bersenjata di Kotapraja Kyimyindaing, Yangon, di mana sebuah kendaraan milik pasukan keamanan menabrak pengunjuk rasa yang kemudian ditembaki dengan peluru tajam. kematian dan luka-luka bagi banyak orang,” terangnya.

Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) juga mengecam insiden itu. “Mengerikan dengan laporan bahwa pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah, berlari, dan membunuh beberapa pengunjuk rasa yang melakukan aksi damai pagi ini di Yangon,” terangnya.

"Kami mendukung hak rakyat Burma untuk memprotes secara damai," lanjutnya.

Baca juga: Brutal! Militer Myanmar Libas Kerumunan Demonstran dengan Mobil, Tewaskan 5 Orang

Menurut media lokal, sedikitnya lima orang tewas di Myanmar ketika sebuah kendaraan menabrak pengunjuk rasa anti-junta akhir pekan ini. Outlet berita Myanmar Now melaporkan pada Minggu (5/12), serangan itu terjadi di Kotapraja Yangon, mengutip pengunjuk rasa dan saksi mata.

Seorang reporter yang menyaksikan kejadian itu mengatakan kepada CNN bahwa itu adalah kendaraan militer yang menabrak demonstran.

Baca juga: Demonstrasi Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata dan Bom Asap

Menurut sebuah pernyataan oleh militer Myanmar, sebelas pengunjuk rasa ditangkap di tempat kejadian, termasuk dua pria dan satu wanita yang terluka.

Namun, pernyataan itu tidak mengakui kematian yang dilaporkan atau dugaan serangan kendaraan.

Insiden itu terjadi ketika Myanmar menunggu vonis dalam persidangan pemimpin sipil terguling Aung San Suu Kyi, yang menghadapi hampir selusin dakwaan termasuk penghasutan dan pelanggaran protokol Covid-19. Dia telah menolak semua tuduhan.

Peraih Nobel berusia 76 tahun itu adalah penasihat negara Myanmar dan pemimpin de facto sampai militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini