Klaim Nol Kasus Covid-19, Korut Peringatkan Warganya Tentang Varian Omicron

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 07 Desember 2021 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 18 2513409 klaim-nol-kasus-covid-19-korut-peringatkan-warganya-tentang-varian-omicron-hVcgecMtD8.jpg Pemerintah Korut peringatkan warganya tentang varian Omicron (Foto: KCTV)

PYONGYANG - Korea Utara (Korut) telah memperingatkan penduduknya tentang bahaya  virus corona varian baru Omicron setiap harinya, meskipun mereka mengklaim kepada badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jika masih belum ada satu pun kasus Covid-19 yang pernah tercatat di sana.

Korea Utara memperingatkan masyarakatnya tentang bahaya Omicron, tetapi masih bersikukuh tidak pernah ada satu pun kasus virus corona.

Negara bagian itu mengatakan telah meningkatkan pengujian, tetapi belum juga memiliki kasus yang dilaporkan, sejak awal pandemi hampir dua tahun lalu.

NK News melaporkan Korea Utara memberi tahu WHO bahwa negara itu tetap bebas dari virus setelah mengetes 1.421 orang tambahan.

Baca juga: Kim Jong-un Ultah, Warga Korut yang Kelaparan Diperintahkan Buat Permen untuk Hadiah

Republik Rakyat Demokratik Korea melakukan tes PCR selama periode dua minggu di bulan November, yang mencakup orang dengan gejala mirip flu.

Media pemerintah telah menyerukan tindakan yang lebih ketat untuk memerangi varian Omicron baru.

Baca juga: Korut Darurat Pangan, Kim Jong-un Minta Rakyat 'Makan Lebih Sedikit' Sampai 2025

Negara itu telah mengambil tindakan yang lebih drastis yang sebelumnya diadopsi dalam wabah epidemi lainnya, setelah berkeyakinan tidak ada kasus positif Covid-19.

Warga Korea Utara mengalami masa-masa sulit yang panjang setelah kelaparan pada tahun 1990-an.

Kelaparan itu terjadi saat warga Korea Utara memasuki musim dingin yang 'tegang', dengan perbatasan yang masih ditutup dengan negara tetangganya, China dan persediaan makanan yang diragukan.

Perbatasan ditutup dalam penguncian tahun lalu sebagai upaya untuk mencegah Covid-19 memasuki negara itu, tetapi penguncian itu membuat negara bagian itu berada dalam kerusakan ekonomi yang parah dan laporan harga pangan melonjak.

Meskipun kekurangan pangan kronis dan data perdagangan terbatas, Kim telah menekankan kemandirian selama krisis.

Pelapor Khusus PBB Tomás Ojea Quintana menulis dalam sebuah laporan pada Oktober lalu mendesak Korea Utara untuk membuka kembali ekonominya secara bertahap.

“Akses masyarakat terhadap makanan adalah masalah serius, di mana anak-anak dan orang tua yang paling rentan berisiko kelaparan,” ujarnya.

Dia mengatakan kurangnya impor pupuk dan bahan pertanian telah berdampak pada panen.

Pada Juni lalu, pemimpin Kim Jong-un memberi tahu jika masalah kelaparan semakin ‘mencekik’ negara itu.

Pada akhir Oktober lalu, negara itu mengungkapkan rencana untuk mengonsumsi angsa hitam sebagai cara untuk menutupi kekurangan makanan - dengan memberi tahu masyarakatnya, bahwa daging angsa hitam itu "lezat dan memiliki nilai obat."

“Korea Utara berusaha keras untuk menstabilkan harga pangan di tengah bencana ekonomi. Harga beras stabil di permukaan karena intervensi negara yang berat ... dan penerimaan tidak resmi dari bantuan China," kata Cho Han-bum, seorang peneliti senior di Institut Korea untuk Unifikasi Nasional, sebuah organisasi penelitian think tank yang didanai pemerintah di Seoul.

"Namun, kami tidak tahu berapa lama itu bisa bertahan,” ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini