Share

Tentara Myanmar Diduga Bantai 11 Warga Sipil, Bakar Korban Hidup-Hidup

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 09 Desember 2021 17:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 18 2514606 tentara-myanmar-diduga-bantai-11-warga-sipil-bakar-korban-hidup-hidup-0wefcl5eq6.jpg Foto: Reuters.

NAYPYIDAW – Tentara Myanmar dituduh telah melakukan eksekusi terhadap 11 orang di sebuah desa di daerah tengah negara itu. Tentara diduga mengumpulkan para korban sebelum menembak mati dan membakar jasad mereka, menurut keterangan penduduk di daerah itu dan laporan media.

Mayat-mayat yang hangus ditemukan di sebuah desa di Sagaing, daerah yang telah menyaksikan pertempuran sengit antara pasukan keamanan Myanmar dan milisi anti pemerintahan junta. Keterangan penduduk menyebutkan bahwa beberapa korban masih hidup ketika dibakar.

BACA JUGA: Brutal! Militer Myanmar Libas Kerumunan Demonstran dengan Mobil, Tewaskan 5 Orang

Rekaman video yang menunjukkan mayat-mayat yang terbakar itu beredar di media sosial dan gambar-gambarnya dipublikasikan oleh beberapa media, termasuk portal berita Myanmar Now.

Reuters tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian rekaman atau klaim tentang bagaimana 11 orang itu meninggal. Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk meminta komentar.

Seorang pekerja sukarelawan di daerah itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan melalui telepon bahwa pasukan telah memasuki Desa Don Taw pada Selasa (7/12/2021) pagi dan para korban tewas sekitar pukul 11 pagi hari itu.

"Pasukan itu secara brutal membunuh siapa saja yang bisa mereka temukan," kata sukarelawan itu, mengutip keterangan saksi sebagaimana dilansir Reuters. Relawan telah membantu orang-orang yang melarikan diri dari Don Taw dan desa-desa terdekat lainnya.

BACA JUGA: Serangan Tak Pandang Bulu Militer Myanmar Paksa 100 Ribu Orang Melarikan Diri

Relawan itu mengatakan tidak jelas apakah para korban adalah anggota milisi atau warga sipil biasa.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis, dengan protes yang meluas dan pembentukan milisi, yang dikenal sebagai Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), untuk menghadapi tentara yang diperlengkapi dengan baik.

Pekerja sukarelawan bantuan lainnya mengatakan mereka telah berbicara dengan saksi di antara sekitar 3.000 orang yang melarikan diri dari lima desa di daerah itu dan bersembunyi, takut akan lebih banyak penangkapan dan pembunuhan.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Seorang kerabat dari salah satu korban mengatakan kepada Reuters bahwa orang yang tewas, Htet Ko, adalah seorang mahasiswa berusia 22 tahun dan bukan anggota milisi dan tidak bersenjata.

"Ini tidak manusiawi. Saya merasakan sakit yang dalam di hati saya," kata kerabatnya, yang mengatakan pria itu mencoba melarikan diri, tetapi terluka oleh tembakan.

Dr Sasa, Juru bicara pemerintah sipil bayangan Myanmar, yang dibentuk setelah kudeta, menuduh para korban telah "dicambuk, disiksa, dan akhirnya dibakar hidup-hidup".

Dalam sebuah posting di media sosial, dia mencantumkan apa yang dia katakan sebagai nama 11 orang, semuanya laki-laki dan termasuk seorang anak berusia 14 tahun.

"Serangan-serangan mengerikan ini menunjukkan bahwa militer tidak menghargai kesucian hidup manusia," katanya.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan PBB sangat prihatin dengan laporan "pembunuhan yang mengerikan."

"Kami mengutuk keras kekerasan semacam itu dan mengingatkan otoritas militer Myanmar akan kewajiban mereka di bawah hukum internasional untuk memastikan keselamatan dan perlindungan warga sipil. Orang-orang yang bertanggung jawab atas tindakan keji ini harus dimintai pertanggungjawaban," kata Dujarric.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sebuah kelompok pemantau yang dikutip oleh PBB, mengatakan lebih dari 10.700 warga sipil telah ditahan dan 1.300 dibunuh oleh pasukan keamanan sejak militer merebut kekuasaan.

Militer mengatakan AAPP bias dan menggunakan data yang berlebihan dan ratusan tentara juga tewas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini