Share

Penyakit Misterius Renggut 89 Nyawa di Sudan Selatan

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 15 Desember 2021 11:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 15 18 2517278 penyakit-misterius-renggut-89-nyawa-di-sudan-selatan-fAYbTO3tkJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

JUBA - Sebuah penyakit yang belum diidentifikasi telah menewaskan setidaknya 89 orang di Fangak di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan, kata seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kematian misterius terjadi di daerah yang baru-baru ini dilanda banjir. Pejabat kesehatan setempat telah mengesampingkan kolera sebagai penyebabnya, demikian dilaporkan media Inggris itu.

BACA JUGA: Pesawat Berisi Uang Jatuh di Sudan Selatan, Tujuh Tewas

“Kami memutuskan untuk mengirim tim respon cepat untuk pergi dan melakukan penilaian dan investigasi risiko; saat itulah mereka akan dapat mengumpulkan sampel dari orang yang sakit – tetapi untuk sementara angka yang kami dapatkan adalah bahwa ada 89 kematian,” kata pejabat WHO Sheila Baya kepada BBC.

Helikopter akan membawa tim WHO ke daerah yang terkena dampak dari ibu kota Juba pada Rabu (15/12/2021), tambahnya.

BACA JUGA: 'Demam Misterius' Membunuh Puluhan Anak di India dalam Seminggu

Pada Oktober, badan pengungsi PBB UNHCR mengatakan bahwa banjir yang melanda Sudan Selatan pada awal tahun ini adalah yang terburuk adalah yang terburuk yang terlihat di empat negara terdampak sejak 1962.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

“Banjir saat ini melanda pada saat orang sudah menghadapi tiga ancaman konflik, Covid-19, dan kelaparan,” kata badan tersebut sebagaimana dilansir RT.

Wabah itu terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas Covid-19 varian Omicron, yang penemuannya mendorong beberapa negara Barat untuk memberlakukan pembatasan perjalanan tambahan untuk beberapa negara di Afrika selatan, tempat varian itu terdeteksi.

Sementara Sudan Selatan tidak ada dalam daftar baru, negara itu memiliki banyak masalah lain yang berasal dari kekerasan yang terus berlanjut, kekurangan dana untuk sistem perawatan kesehatan dan bencana alam, dan sejumlah isu lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini