JAKARTA - Keberadaan Wali Songo dalam penyebaran agama Islam, khususnya di pulau Jawa hingga saat ini masih ditemukan jejak peninggalannya. Berkat jasa mereka, saat ini terdapat banyak sekali populasi masyarakat Islam di pulau terpadat di Indonesia ini.
(Baca juga: Kisah Wali Songo, Guru Raden Patah, Bertafakur di Goa 40 Hari, Tubuhnya Berlumut dan Belajar di Palestina)
Dalam dakwahnya, Wali Songo kerap menggunakan cara yang mudah untuk dipahami. Umumnya, mereka menyesuaikan ajaran Islam dengan tradisi orang-orang Jawa.
(Baca juga: 5 Pusaka Sakti Sunan Kalijaga, Nomor 3 Digunakan Melawan Nyi Roro Kidul)
Beberapa tradisi dan peninggalan tersebut bahkan masih sering dilakukan hingga sekarang. Melansir berbagai sumber, berikut merupakan sejumlah peninggalan yang masih dilakukan hingga hari ini.
1. Wayang Kulit Nuansa Islam
Salah satu metode dakwah Wali Songo yang populer ialah wayang kulit. Adalah Sunan Kalijaga, yang mempopulerkan cara dakwah seperti ini dan menarik perhatian masyarakat Jawa.
Dirinya menyisipkan kisah-kisah Islam di masa lampau menggunakan wayang kulit. Salah satu ceritanya yang terkenal adalah Kalimasodo, yang dapat diartikan sebagai "Dua Kalimat Syahadat".
2. Selametan 4 Bulanan
Selametan 4 bulanan rupanya merupakan tradisi yang diturunkan Wali Songo. Tradisi ini yaitu membacakan surat-surat Al-Quran saat bayi masih berumur 4 bulan.
Diharapkan, dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, bayi dapat lahir dengan keadaan baik dan kelak akan tumbuh sebagai anak sholeh yang berbakti dan bertaqwa.
3. Tahlilan
Tahlilan merupakan kegiatan di mana orang-orang berkumpul, berdzikir, serta membacakan surat di Al-Quran. Kegiatan ini umummya di lakukan saat malam Jumat.
Selain untuk beribadah, tahlilan juga digunakan sebagai ajang berkumpul satu sama lain. Peninggalan ini juga cukup sering dilakukan oleh Wali Songo di masa lampau.
4. 7 Harian, 40 Harian, dan 100 Harian
Peninggalan ini dilakukan untuk membacakan doa bagi mereka yang sudah wafat. Layaknya tahlilan, orang-orang datang dan berkumpul untuk berdoa, membacakan surat, serta berdzikir.
Dulu, Wali Songo melakukan hal ini untuk mengikuti tradisi masyarakat yang kerap berkumpul ketika orang meninggal. Mereka menambah nuansa Islami di dalamnya, dengan menambah kegiatan yang sudah dijelaskan.