Share

Halangi Tugas Jurnalis, Oknum Pegawai dan Sekuriti BSI Sulut Dilaporkan ke Polisi

Tim Okezone, Okezone · Selasa 21 Desember 2021 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 21 340 2520436 halangi-tugas-jurnalis-oknum-pegawai-dan-sekuriti-bsi-sulut-dilaporkan-ke-polisi-DDDSF5MaPi.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pengurus Daerah (Pengda) IJTI Sulut mengecam tindakan oknum staf dan sekuriti Bank Syariah Indonesia (BSI) yang diduga kuat menghalang-halangi tugas jurnalistik dengan mengusir jurnalis Metro TV Sulut, Amanda Komaling pada Jumat 17 Desember 2021 lalu.

Tindakan tersebut merupakan pelanggaran pada Pasal 18 ayat 1 Undang-Undang Pers tahun 1999. Pengda IJTI Sulut mendukung sepenuhnya jurnalis Metro TV, Amanda Komaling untuk melaporkan kasus dugaan menghalangi tugas jurnalistik di Polresta Manado.

Adapun kronologi peristiwa tersebut terjadi saat Amanda mendapat tugas dari redaksi Metro TV untuk melakukan siaran langsung terkait kondisi terkini dari tiga TKA China yang diduga terpapar varian omicron. Lalu, Amanda bersiap untuk melakukan siaran langsung dari parkiran salah satu pusat perbelanjaan di Manado dengan latar belakang salah satu hotel yang dijadikan lokasi Isolasi Mandiri (Isoman).

Saat akan siaran langsung, tiba-tiba hujan gerimis turun. Amanda kemudian meminta izin ke studio untuk bergeser sedikit dari tempat semula. Dia kemudian bergeser ke koridor ruko depan BSI. Di tengah posisi Tripod kamera dan sudah dalam posisi siap untuk siaran langsung, tiba-tiba securiti bank tersebut atas perintah salah seorang karyawan berinisial PK alias Pingkan datang melarang.

Baca juga: AJI, AMSI dan IJTI Ajukan Permohonan Sebagai Pihak Terkait Pada Pengujian UU Pers

"Saya disuruh berpindah tempat dengan alasan saya berdiri tepat di depan kamera cctv bank tersebut sehingga itu akan dipertanyakan oleh pimpinan," kata Amanda, Selasa (21/12/2021).

Baca juga: Terpilih Aklamasi, Herik Kurniawan Resmi Jabat Ketum IJTI 2021-2026

Amanda kemudian mengalah dan meminta izin ke studio untuk pindah tempat karena sudah terhubung untuk siaran langsung. Kemudian dari Studio Metro TV Jakarta mengizinkan asalkan tidak jauh-jauh.

Dia kemudian menggeser tripod empat langkah sesuai yang ditunjuk oleh securiti, namun ternyata latar belakang yang diinginkan Amanda tidak dapat karena terhalang dengan sejumlah motor yang terparkir.

Mantan Ketua IJTI Sulut dua periode itu kemudian menggeser tripod ke tempat yang lebih tepat dengan pertimbangan tidak terhalang latar belakang dan menghindari logo atau brand penginapan tersebut. Namun, pihak BSI tidak puas karena mengatakan bagian depan mobil masih masuk dalam daerah kamera.

"Menurut mereka, bagian depan mobil adalah warna ciri khas kantor BSI sehingga nasabah BSI akan mengetahui apabila kantor mereka berada di depan penginapan Isoman," ujar Amanda.

Amanda pun menjelaskan dan meyakinkan kepada Pingkan bersama securiti tersebut bahwa itu tidak akan menjadi persoalan karena objek bukanlah back ground BSI. Dia juga meminta pihak BSI berhenti menggangu karena Pingkan dan sekuriti berkali kali ke area tripod dan kamera yang sedang running recording.

Amanda juga sudah mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan telah menghalangi pekerjaan jurnalistik dan bisa dipidanakan karena lokasi yang di tempati untuk live adalah area publik. Namun, pihak BSI berdalih lokasi yang dijadikan tempat untuk siaran langsung adalah wilayah mereka dan kata mereka harusnya meminta izin terlebih dahulu.

Baca juga: Ketum IJTI Sebut Media Abal-Abal Penumpang Gelap Kemerdekaan Pers

Rupanya suara perdebatan antara Amanda dan pihak Bank terdengar sampai di studio. Produser Studio di Jakarta meminta Amanda untuk mengalah karena siaran langsung tinggal beberapa detik lagi akan dimulai.

"Saat siaran langsung kondisi saya tidak stabil, isi laporan menjadi kurang jelas tampilan kamera di Monitor TV juga tidak baik. Saya merasa terintimidasi dan terganggu pada saat sedang bertugas menjalankan tugas jurnalistik," tutur Amanda.

Setelah siaran langsung dalam keadaan yang tidak stabil, Amanda kemudian masuk ke dalam Bank BSI ingin bertemu dengan Pingkan untuk mempertanyakan sekaligus menjelaskan seperti apa area publik dan terkait dengan cara kerja jurnalistik. Selain itu, ia ingin mempertanyakan tindakan yang dinilai mengganggu pekerjaan karena diminta sekuriti untuk pindah tempat.

Baca juga: Jokowi Tekankan Pentingnya Peran Pers di Tengah Banjir Informasi saat Pandemi

"Saya menganggap itu adalah pengusiran dan menghalangi, menggagalkan pekerjaan saya. Saat ingin menjelaskan, si karyawan bernama Pingkan ini malah memerintahkan kepada karyawan yang lain untuk mengambil telepon genggam dan merekam perdebatan kami bersama dua rekan kerja saya," jelas Amanda.

Salah seorang oknum karyawan BSI merekam Amanda dan dua rekannya serta mendesak untuk menyebutkan nama. Marwan, salah seorang jurnalis TV yang ada di situ kemudian ikut mengangkat kameranya dan merekam situasi dalam bank pada saat itu.

"Namun ada laki-laki bernama Fahri berkata, “rekam jo, da banyak kwa torang,” (Rekam saja, kami ada banyak orang kok). Saat itu saya jadi marah dan merasa niat mereka sudah tidak baik. Kami pun keluar dari dalam bank," ucap Amanda.

Saat keluar, mereka berpapasan dengan pimpinan bank BSI Manado RA alias Rifai. Amanda kemudian menjelaskan duduk persoalan yang dialami saat bertugas dan peristiwa di dalam kantor BSI. Rifai kemudian mengatakan bahwa itu adalah miskomunikasi karena Amanda tidak meminta izin terlebih dahulu. Saat sedang berbincang-bincang itu, situasi kembali memanas.

Pingkan bersama rekan-rekannya yang lain terlibat adu mulut dengan Aldrin, salah seorang rekan kerja Amanda. Aldrin tidak terima atas tindakan Fahri yang memarahi Amanda sambil menuding ke arahnya. Akhirnya situasi berhasil ditenangkan kembali. Meski demikian Amanda merasa tidak terima atas tindakan dari beberapa karyawan Bank tersebut dan memilih melaporkan masalah itu ke pihak berwajib menggunakan Pasal 18 ayat 1 , Ketentuan Pidana. Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).

Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Taufiq Arifin saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan aduan tersebut. “Laporan aduan sudah kami terima, akan kami tindaklanjuti,” kata Kompol Taufiq Arifin.

Atas kasus tersebut, Pengda IJTI Sulut meminta Polresta Manado mengusut tuntas kasus dugaan menghalangi tugas jurnalistik oleh oknum pegawai BSI. Kemudian Polda Sulut untuk turut memberikan atensi atas kasus tersebut.

Ketiga, meminta Bank Syariah Indonesia mengedukasi pegawai untuk berakhlak dalam tindakan sikap dan tutur saat menghadapi jurnalis, dan keempat pernyataan permohonan maaf secara terbuka oleh Pimpinan BSI Sulawesi Utara.

Baca juga: Komisaris Independen BSI: Rangkul Milenial Menjadi Sahabat Bank Syariah

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini