Share

Profesor Harvard Berbohong tentang Rekrutmen Penelitian dengan China, Terima Hibah Rp214 Miliar

Susi Susanti, Okezone · Rabu 22 Desember 2021 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 22 18 2520804 profesor-harvard-berbohong-tentang-rekrutmen-penelitian-dengan-china-terima-hibah-rp214-miliar-AJhwKeNgOr.jpg Profesor Universitas Harvard dinyatakan bersalah karena berbohong tentang rekrutmen penelitian dengan China (Foto: Reuters)

BOSTON - Seorang profesor Universitas Harvard dinyatakan bersalah pada Selasa (21/12) atas tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa ia berbohong tentang hubungannya dengan program rekrutmen yang dikelola China dalam kasus yang diawasi ketat terkait pengaruh China dalam penelitian AS.

Juri federal di Boston menyatakan Charles Lieber, seorang ilmuwan nano terkenal dan mantan ketua departemen kimia Harvard, bersalah karena membuat pernyataan palsu kepada pihak berwenang, mengajukan pengembalian pajak palsu, dan gagal melaporkan rekening bank China.

Jaksa mengatakan bahwa Lieber, dalam usahanya untuk mendapatkan Hadiah Nobel, pada tahun 2011 setuju untuk menjadi "ilmuwan strategis" di Universitas Teknologi Wuhan di China dan melalui itu berpartisipasi dalam upaya rekrutmen China yang disebut Program Seribu Talenta.

Baca juga: Profesor Harvard Palsukan Data Riset

Jaksa mengatakan China menggunakan program itu untuk merekrut peneliti asing untuk berbagi pengetahuan mereka dengan negara tersebut. Partisipasi bukanlah kejahatan, tetapi jaksa berpendapat Lieber, 62, secara ilegal berbohong kepada pihak berwenang tentang keterlibatannya.

Jaksa mengatakan Lieber berbohong tentang perannya dalam program rekrutmen sebagai tanggapan atas pertanyaan dari Departemen Pertahanan AS dan Institut Kesehatan Nasional AS. Lieber diketahui telah menerima hibah penelitian sebesar USD15 juta (Rp214 miliar).

 Baca juga: Pemerintah AS Batalkan Rencana Deportasi Mahasiswa Asing yang Kuliah Online

Selama wawancara dengan agen FBI setelah penangkapannya, Lieber mengatakan dia "lebih muda dan bodoh" ketika dia bergabung dengan universitas Wuhan dan percaya kolaborasinya akan meningkatkan eksistensinya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Jaksa mengatakan universitas itu setuju untuk membayarnya hingga USD50.000 (Rp713 juta) per bulan ditambah USD158.000 (Rp2 miliar) untuk biaya hidup, dan menerima setengah gajinya dalam bentuk tunai dan setengah lagi dalam bentuk deposito ke rekening bank China.

Lieber mengatakan kepada FBI bahwa dia dibayar antara USD50.000 (Rp713 juta) dan USD100.000 (Rp1,4 miliar) tunai dan memiliki rekening bank hingga USD200.000 (Rp2,8 miliar).

Namun jaksa mengatakan Lieber gagal melaporkan gajinya pada SPT pajak penghasilan 2013 dan 2014 dan selama dua tahun gagal melaporkan rekening bank.

Sementara itu, pengacara pembela Marc Mukasey membantah kalim itu dan mengatakan jaksa telah "menghancurkan" bukti untuk membuktikan kesalahan Lieber, tidak memiliki dokumen kunci untuk mendukung klaim mereka dan terlalu bergantung pada wawancara antara Biro Investigasi Federal (FBI) dengan ilmuwan yang "membingungkan" setelah penangkapannya.

Lieber, yang sedang berjuang melawan kanker, duduk tanpa emosi saat putusan diumumkan setelah hampir tiga jam pertimbangan juri dan persidangan selama enam hari.

"Kami menghormati putusan itu dan akan terus berjuang," kata Mukasey.

Lieber didakwa pada Januari 2020 sebagai bagian dari "Inisiatif China" Departemen Kehakiman AS, yang diluncurkan selama pemerintahan mantan Presiden Donald Trump untuk melawan dugaan spionase ekonomi dan pencurian penelitian China.

Pemerintahan Presiden Joe Biden melanjutkan inisiatif tersebut, meskipun Departemen Kehakiman mengatakan sedang meninjau pendekatannya.

Para kritikus berpendapat inisiatif tersebut merugikan penelitian akademis, membuat profil rasial peneliti China dan meneror beberapa ilmuwan. Seorang profesor Tennessee dibebaskan oleh hakim tahun ini setelah pembatalan persidangan, dan jaksa menjatuhkan tuntutan terhadap enam peneliti lainnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini