Sementara itu, Kepala Departemen Arkeologi Universitas Negeri Ulaanbaatar yang berkantor di ibu kota Mongolia, Dr Diimaajav Erdenebaatar telah mengambil bagian dari ekspedisi gabungan pertama pada pencarian makam Genghis Khan. Dia diketahui kerap menaklukkan sejumlah tantangan di bidang arkeologi.
Proyek kerja sama Jepang-Mongolia bertajuk Gurvan Gol atau Tiga Sungai fokus ke tempat kelahiran Jenghis Khan di Provinsi Khenti, daerah di mana Sungai Onon, Kherlen, dan Tuul mengalir.
Proyek itu dikerjakan pada 1990, tahun ketika Revolusi Demokrasi Mongolia pecah atau tatkala negara itu secara damai menolak pemerintahan komunis demi menyongsong sistem demokrasi.
Gerakan massa kala itu juga menolak proyek pencarian makam Genghis Khan. Protes masyarakat menghentikan Proyek Gurvan Gol.
Sejak 2001, Dr Erdenebaatar sudah mengekskavasi kuburan raja-raja Xiongnu berusia 2000 tahun di Provinsi Arkhangai yang berada di Mongolia tengah. Dia yakin Xiongnu merupakan nenek moyang orang-orang Mongolia—sebuah teori yang juga dikisahkan Genghis Khan.
Temuan Erdenebaatar mungkin mengungkap tradisi penguburan yang sama dan makam-makam itu bisa saja mengilustrasikan rupa pemakaman Genghis Khan.
Para raja Xiongnu dimakamkan lebih dari 20 meter di bawah tanah, di dalam peti kayu. Batu berbentuk persegi diletakkan di atas tanah sebagai penanda kuburan.
Dr Erdenebaatar menghabiskan 10 musim panas untuk mengekskavasi makam pertama, yang ternyata telah dirusak kawanan pencuri.
Kuburan itu berisi benda-benda berharga yang mengindikasikan capaian diplomasi Xiongnu, yakni sebuah kereta kayu khas China, barang pecah belah dari Romawi dan berbagai barang berbahan metal.
Dr Erdenebaatar menunjukkan museum arkeologi mungil di kampusnya untuk melihat sejumlah artefak. Beberapa ornamen emas dan perak dikubur bersama sejumlah kuda di sekitar makam sebagai wujud pengorbanan.
Dia menunjukkan macam tutul dan unicorn dalam desain ornamen itu—imaji mewah yang juga digunakan Genghis Khan dan para keturunannya.