LONDON - Mantan presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, mengatakan dia tidak punya pilihan selain mendadak meninggalkan Kabul ketika Taliban mendekat. Ia juga menyangkal adanya kesepakatan yang saat itu tengah disusun untuk pengambilalihan Afghanistan secara damai. Pernyataannya itu untuk membantah laporan mantan pejabat Afghanistan dan Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA: Eks Pengawal Klaim Punya Bukti Presiden Ghani Kabur dari Afghanistan Bawa Tas Penuh Uang
Ghani mengatakan dalam wawancaranya dengan BBC, yang disiarkan pada Kamis (30/12/2021), bahwa salah seorang penasihatnya memberi ia waktu hanya beberapa menit untuk memutuskan meninggalkan ibu kota Afghanistan, Kabul. Dia juga membantah tuduhan yang tersebar luas bahwa dia meninggalkan Afghanistan dengan jutaan uang curian.
Kepergian Ghani yang secara tiba-tiba dan diam-diam pada 15 Agustus 2021 membuat kota itu kehilangan kemudi, ketika pasukan AS dan NATO berada pada tahap akhir penarikan pasukan yang kacau dari negara itu setelah 20 tahun.
"Pada pagi hari itu, saya tidak punya firasat bahwa pada sore hari saya akan pergi," kata Ghani kepada radio BBC.
BACA JUGA: Terungkap, Ini Pembicaraan Terakhir Biden dan Ghani Sebelum Afghanistan Dikuasai Taliban
Pernyataannya bertentangan dengan berbagai keterangan lain.
Mantan presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan kepada kantor berita Associated Press dalam sebuah wawancara pada awal Desember bahwa kepergian Ghani menghilangkan kesempatan bagi para negosiator pemerintah, termasuk dirinya dan ketua dewan perdamaian Abdullah Abdullah, untuk mencapai kesepakatan dengan Taliban, yang telah berkomitmen untuk tetap berada di luar batas ibu kota.