Suroadmimenggolo, yang merupakan paman sekaligus ayah angkat Raden Saleh pernah menjabat sebagai Bupati Semarang. Sejak ayahnya meninggal pada usia muda, Raden Saleh diasuh Suroadimenggolo di Semarang.
Suroadimenggolo yang mengenalkan sekaligus mendorong Raden Saleh terjun ke dunia seni. Pada Desember 1825, Belanda menangkap Suroadimenggolo dan putranya. Sebab Raden Sukur, putra Suroadimenggolo bergabung ke dalam laskar pemberontak Diponegoro. Keduanya diasingkan ke Indonesia Timur.
Penangkapan Suroadimenggolo menjadi pukulan batin yang dahsyat bagi Raden Saleh muda. Pertama kalinya ia merasakan kesewenangan Belanda terhadap keluarganya.
Kendati demikian hal itu tidak mampu melunturkan rasa kagumnya kepada peradaban Eropa. Pada Juli 1829 Raden Saleh bertolak ke Belanda dengan menaiki kapal Raymon. Ia pergi ke Belanda saat Perang Jawa sedang berkecamuk.
Raden Saleh berangkat ke Belanda sebagai asisten sekretaris keuangan Kolonial Belanda Jean Baptiste de Linge. Saat menggenggam keris Kiai Nogo Siluman, Werner Krauss dalam buku “Raden Saleh, Kehidupan dan Karyanya”, menyebut tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan Raden Saleh.
“Perasaan menggigil seperti apa yang mengalir dalam tubuhnya? Sebagian keluarganya berjuang di pihak Diponegoro dan untuk itu mereka harus banyak berkorban,” tulis Werner Krauss. “Tiba-tiba keris itu, pusaka itu, inti kekuatan magis Diponegoro berada dalam genggamannya”.
Dalam catatan Werner Krauss, Raden Saleh tetap bersikap dingin. Di depan pegawai Kerajaan Belanda ia membuat penilaian singkat.