JAKARTA - Masyarakat Bali memiliki Pahlawan Nasional Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai yang cukup tersohor. Dia lahir pada 30 Januari 1917 dan meninggal dunia pada 20 November 1946.
(Baca juga: Peristiwa 30 Januari: Lahirnya I Gusti Ngurah Rai hingga Konser Terakhir The Beatles)
I Gusti Ngurah Rai dikenal melalui pertempuran Puputan Margarana serta pertempuran rakyat Bali melawan Belanda. Dimana, Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia untuk wilayah Jawa, Madura, dan Sumatera. Hal ini lantas menimbulkan kekecewaan pada rakyat Bali, karena Bali belum diakui secara de facto.
Pertempuran pun terjadi secara besar-besaran, I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya dikejar melalui pesawat terbang yang dikirim oleh pasukan Belanda. Ia dan pasukannya pun akhirnya gugur di medan pertempuran.
Dilansir beragam sumber, Minggu (30/1/2022) I Gusti Ngurah Rai lahir di Badung, 30 Januari 1917, dilahirkan oleh seorang wanita keturunan Bali yang bernama I Gusti Ayu Kompyang. Ayahnya merupakan seorang Camat Petang yang bernama I Gusti Ngurah Palung. Berkat jabatan sang ayah, ia mendapatkan kesempatan untuk bersekolah formal di Holands Inlandse School (HIS), Denpasar.
Setelah menyelesaikan pendidikannya disana, ia kemudian melanjutkan ke MULO (setingkat Sekolah Menengah Pertama) di Malang. Pada tahun 1936, I Gusti Ngurah Rai kecil tertarik dengan dunia militer dan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Kader Militer di Prayodha Bali, Gianyar.
Empat tahun berselang, Ia menyelesaikan pendidikannya dan dilantik sebagai Letnan II. Tak lama, ia langsung meneruskan pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO), Magelang dan Pendidikan Artileri, Malang.
Berbekal ilmu kemiliteran yang telah diperolehnya semasa muda dan pribadinya yang cerdas telah membawanya menjadi seorang intel sekutu di daerah Bali dan Lombok, semasa penjajahan kolonial.
Mendirikan TKR
Pasca Indonesia mendeklarasikan kemerdekaanya pada 1945, ia bersama dengan rekan militernya ikut membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil. Ia diangkat menjadi komandan.
Berbekal rasa tanggung jawab sebagai Komandan TKR, I Gusti Ngurah Rai pergi ke Yogyakarta yang menjadi markas besar TKR untuk berkonsolidasi dengan pimpinan pusat. Saat itu juga, ia dilantik menjadi Komandan Resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.
TKR Sunda Kecil di bawah pimpinannya, dengan kekuatan 13,5 kompi ditempatkan tersebar diseluruh kota di Bali, saat itu pasukannya dikenal dengan nama Ciung Wanara.
Pertempuran Akhir
I Gusti Ngurah Rai melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana (Pertempuran habis-habisan) pada 20 November 1946.
Awal pertempuran Puputan Margarana, Dia memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 20 November 1946 --saat malam hari--dan berhasil baik.
Saat itu, pasukannya berhasil merebut beberapa pucuk senjata beserta pelurunya. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946, tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga.
Kurang lebih pukul 10.00 pagi, mulailah terjadi tembak - menembak antara pasukan NICA dengan pasukan Ngurah Rai.
Pada pertempuran tersebut pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar.
Pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di Desa Margarana. Hingga akhirnya, pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.