DENMARK – Pengadilan Denmark di Roskilde, dekat Kopenhagen, pada Jumat (4/2) mengatakan tiga anggota kelompok separatis Iran, Gerakan Perjuangan Arab untuk Pembebasan Ahwaz (ASMLA), dinyatakan bersalah mempromosikan terorisme, serta memata-matai Arab Saudi.
Para terdakwa, yang tidak diidentifikasi sesuai dengan hukum Denmark, ditahan kembali pada Februari 2020, dan tetap ditahan sejak saat itu. Ketiga pria itu, berusia 40 hingga 51 tahun, sekarang menghadapi hukuman 12 tahun penjara. Hukuman mereka diperkirakan akan diumumkan bulan depan.
Semua terdakwa sebelumnya telah diasingkan dari Iran, hanya satu dari mereka yang memiliki kewarganegaraan Denmark.
Ketiganya dengan suara bulat dinyatakan bersalah karena memata-matai atas nama badan intelijen Arab Saudi yang tidak ditentukan. Para terdakwa telah mengumpulkan informasi tentang individu dan organisasi” yang terkait dengan Iran dan militernya di Denmark dan luar negeri, kemudian memberikannya kepada bos mereka yakni orang yang menangani masalah Saudi.
Baca juga: Turis Prancis Dihukum Penjara 8 Tahun di Iran Usai Dituduh Mata-Mata
Mayoritas juri juga memutuskan ketiga terdakwa bersalah atas tuduhan lain, yaitu mempromosikan terorisme, serta mendanai dan mencoba membiayai terorisme. Ketiganya membantu sayap militan ASMLA, dengan pengadilan mencatat tindakan kelompok ini telah jauh melampaui batas perjuangan kebebasan yang sah.
Baca juga: Israel Desak Turki Bebaskan Pasangan yang Ditahan karena Mengambil Foto Istana, Dituduh Mata-Mata
Para terdakwa diyakini telah menerima sekitar 15 juta kroner Denmark (Rp33 miliar) dari pihak atasan mereka yang menangani masalah Saudi.
Salah satu terdakwa juga dinyatakan bersalah mencoba mendapatkan dana tambahan dari pejabat Saudi yang tidak disebutkan namanya untuk makanan, minuman, dan senjata.
ASMLA adalah kelompok separatis etnis, yang berusaha mendirikan negara Arabnya sendiri di wilayah Iran, dengan fokus utama di wilayah barat daya Iran Khuzestan.
Organisasi ini secara resmi ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Teheran dan diyakini telah melakukan beberapa serangan di tanah Iran. Termasuk serangan mematikan terhadap parade militer di kota Ahvaz Iran pada September 2018. Serangan itu menewaskan sedikitnya 25 orang.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.