JAKARTA - Sebelum Dzuhur, Sarwo Edhie Prabowo berangkat menemui Soeharto mengendarai kendaraan lapis baja. Mereka berencana untuk membahas situasi terkait penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal TNI.
(Baca juga: Ketika Ajudan Jenderal Ahmad Yani Temui Sarwo Edhie Wibowo Sambil Menangis)
Di Markas Kostrad, pada sore hari Soeharto memerintahkan untuk merebut RRI dan Kantor Telekomunikasi. Batalion 454/Diponegoro dan 530/Brawijaya, yang menjaga kedua tempat itu, telah menyingkir.
Begitu masuk jam malam, pukul 18.00, Kompi Tanjung yang ditugasi merebut RRI dan Kompi Urip yang menguasai Kantor Telekomunikasi keduanya melakukan pergerakan. Letnan Dua Sintong Panjaitan memimpin satu peleton menyerbu RRI.
(Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Tidak Percaya Soeharto Masih Hidup, Utusan Dilucuti!)
Ketika mendekati sasaran, anak buahnya melepaskan tiga tembakan. Mendengar letusan tersebut, para anggota Pemuda Rakyat tunggang-langgang. Tak sampai setengah jam, Sintong dan anak buahnya berhasil mengambil alih RRI.
Namun, ketika ia hendak melaporkan keberhasilan itu kepada Sarwo, bukan kata selamat yang ia dapatkan, melainkan sebuah bentakan.
Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, bukan menerima ucapan selamat, Sintong mendapat bentakan. "Laporanmu tidak benar! Tangkap dulu semua orang di situ," bentak Sarwo.
(Baca juga: Kisah Sintong dan Prajurit Kopassus Ambil Alih RRI dari PKI Dalam 30 Menit)
Rupanya, Sarwo masih mendengar siaran RRI. Ternyata, itu berasal dari tape recorder yang sedang berputar.