Di Surabaya, Sarwo mendaftar menjadi heiho (pembantu tentara). Namun, umurnya baru 15 tahun, tidak sesuai dengan persyaratan. Tak hilang akal, akhirnya ia mengganti tahun kelahirannya menjadi 1925.
Di asrama, tugas Sarwo hanya memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang.
Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, saat perang kemerdekaan, Sarwo Edhie diajak Ahmad Yani, sesama eks anggota Pembela Tanah Air, bergabung dalam Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Batalion itu dikomandani Yani, pemuda asli Kampung Ngrendeng. Gebang, Purworejo. Sarwo bertugas membawa mortir.
Saat Yani membentuk Batalion baru, Sarwo diangkat menjadi komandan kompi Batalion V Brigade IX Divisi Diponegoro sampai 1951.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.