Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Seberapa Dekat Kita dengan Risiko Kehancuran Akibat Perang Nuklir?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 26 Maret 2022 |04:04 WIB
Seberapa Dekat Kita dengan Risiko Kehancuran Akibat Perang Nuklir?
'The History of Bombs' karya seniman Ai Weiwei di Imperial War Museum di London. (Foto: Getty Images)
A
A
A

Secara garis besar, ada dua jenis skenario: perang nuklir yang disengaja, di mana satu pihak memutuskan untuk menyerang duluan dengan nuklir, seperti PD2.

Ada pula perang nuklir yang tidak disengaja, di mana satu pihak salah mengira bahwa dia dalam ancaman nuklir, lalu meluncurkan senjata nuklir. Contohnya termasuk insiden Able Archer tahun 1983, ketika Uni Soviet awalnya salah mengartikan latihan militer NATO, dan insiden roket Norwegia tahun 1995, ketika peluncuran ilmiah sempat disalahartikan sebagai rudal.

Terakhir, ada pula informasi tentang peristiwa tertentu yang dapat memberikan panduan. misalnya dalam invasi Rusia ke Ukraina, parameter penting adalah kondisi mental Vladimir Putin.

Perang nuklir lebih mungkin terjadi jika dia marah, temperamental, terhina, atau bahkan bunuh diri. Faktor lain antara lain apakah Ukraina berhasil melawan militer Rusia, apakah NATO lebih terlibat dalam operasi militer langsung, dan apakah ada alarm palsu besar yang terjadi.

Rincian semacam ini, sejauh yang dapat kita pelajari, sangat berharga untuk menambah pemahaman kita tentang kemungkinan peristiwa ini bisa mengakibatkan perang nuklir.

Semua hal di atas berkaitan dengan kemungkinan perang nuklir. Untuk mengevaluasi risiko, kita juga membutuhkan tingkat keparahannya.

Ada dua bagian. Pertama adalah detail dari perang itu sendiri. Berapa banyak senjata nuklir yang diledakkan? Peledakan dilakukan dengan apa? Di lokasi dan ketinggian mana? Apa saja serangan non-nuklir yang juga terjadi selama perang?

Rincian ini menentukan kerusakan awal. Bagian kedua adalah apa yang terjadi selanjutnya. Apakah para penyintas mampu memenuhi kebutuhan dasar: makanan, pakaian, tempat tinggal? Seberapa parah efek sekunder seperti musim dingin nuklir?

Mengingat semua stresor yang berbeda, apakah para penyintas mampu mempertahankan kemiripan peradaban modern, atau apakah peradaban runtuh? Jika keruntuhan benar-benar terjadi, apakah para penyintas atau keturunan akan dapat membangunnya kembali? Faktor-faktor ini menentukan kerugian total jangka panjang yang disebabkan oleh perang nuklir.

Setiap perang nuklir, betapapun "kecil", akan menjadi bencana besar bagi daerah yang terdampak. Namun, yang membuat senjata nuklir begitu mengkhawatirkan bukanlah kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh satu ledakan saja.

Memang bisa sangat besar, tetapi masih sebanding dengan kerusakan oleh bahan peledak non-nuklir konvensional. PD2 adalah ilustrasi: dari sekitar 75 juta orang yang tewas dalam konflik ini, hanya sekitar 200.000 tewas oleh senjata nuklir.

Jumlah itu sebanding dengan pemboman karpet di kota-kota seperti Berlin, Hamburg, dan Dresden. Senjata nuklir memang mengerikan, tetapi begitu juga senjata konvensional yang digunakan dalam jumlah besar.

Apa yang membuat senjata nuklir begitu mengkhawatirkan adalah nuklir dibuat begitu mudah menyebabkan begitu banyak kehancuran.

Dengan satu perintah peluncuran, sebuah negara dapat menyebabkan kerusakan berkali-kali lipat daripada yang terjadi di sepanjang Perang Dunia II. Semua itu dapat dilakuakn tanpa mengirim satu tentara pun ke luar negeri, yakni dengan mengirimkan hulu ledak nuklir dengan rudal balistik antarbenua. Penghancuran massal telah lama dimungkinkan, tetapi tidak pernah semudah ini.

Inilah sebabnya mengapa aturan pembatasan penggunaan senjata nuklir sangat penting. Kesepakatan berfungsi untuk membantu negara-negara menahan godaan untuk menggunakan senjata nuklir. Jika boleh menggunakan satu senjata nuklir, bagaimana dengan dua, atau tiga, atau empat, dan seterusnya hingga terjadi kehancuran global yang masif.

Dalam istilah risiko, perbedaan antara perang nuklir "kecil" dan "besar" adalah penting. Setiap orang jauh lebih mungkin untuk mati dalam perang nuklir di mana 1.000 senjata nuklir digunakan dibandingkan dengan penggunaan satu senjata nuklir.

Lebih jauh lagi, peradaban secara keseluruhan dapat dengan mudah menahan perang dengan satu senjata nuklir atau sejumlah kecil senjata nuklir, seperti yang terjadi di WW2.

Pada jumlah yang lebih besar, kemampuan peradaban akan diuji. Jika peradaban global gagal, dampaknya adalah kategori keparahan yang secara fundamental lebih serius, situasi di mana dalam jangka panjang kelangsungan hidup umat manusia dipertaruhkan.

Cukuplah untuk mengatakan, jumlah senjata nuklir yang dibutuhkan untuk mendorong munculnya dampak dalam kategori ini, masih sangat tidak menentu.

Mengingat semua ketidakpastian ini, analisis risiko pun dipertanyakan. Dalam konteks ini, penelitian kelompok saya tentang risiko perang nuklir mendapat dua kritik umum. Beberapa orang mengatakan, terlalu kuantitatif. Yang lain mengatakan tidak cukup kuantitatif.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement