Menariknya tiga patung ini mempunyai energi berbeda-beda yang konon menjadi representasi makhluk tak kasat mata penjaga mata air yang menjadi penyuplai ke Balai Kota Malang. Patung laki-laki Arjuna dan perempuannya bahkan bola matanya bisa bergerak sendiri saat didatangi orang.
Hal ini tampak dari energi residual yang dirasakan saat penelusuran di sore menjelang petang di lokasi. Sementara patung Hanoman yang berada di atas tandon memang memiliki energi lebih kuat dan seolah menjadi raja dari dua patung lainnya.
Tetapi energi ketiga patung tersebut masih kalah dibanding dengan energi makhluk tak kasat mata di sekitar area sumber air. Sosok kakek tua dan makhluk tinggi besar berbulu hitam setinggi pohon terlihat menunjukkan eksistensinya.
Sementara beberapa ayunan juga dihuni energi residual makhluk tak kasat mata yang sering iseng menggerakkan ayunan tersebut. Wujud anak kecil tak terlihat juga bisa terasa di lokasi ini, tak jarang sosok anak kecil inilah yang mencoba menggoda dan mengajak main.
Pemerhati budaya Agung H. Buana menjelaskan, tiga patung ini awalnya tidak berlokasi di taman wisata yang kini tak lagi berfungsi, namun karena proses pencarian sumber mata air hingga berpuluh-puluh meter dalamnya yang dilakukan selama berhari-hari tak juga menemukan diputuskan menggunakan cara supranatural. Dari sanalah diperoleh kesepakatan dengan makhluk tak kasat penunggu sumber mata air untuk menaruh patung di lokasi tersebut.
"Beberapa masukan warga dan sesepuh di sini Sumber-sumber air di sekitar balai kota ada penunggunya dan menjaga secara spiritual. Ada dua sumber besar di sini dan kolam renang besar. Sumber inilah kebutuhan air balai kota terpenuhi. Syarat (penunggu sumber mata air ini) yang dimintakan minta dipasangkan patung ini," ucap Agung Buana.