Rasa sentimen berlebihan yang ditumpahkan kepada penjajah membuat kalangan pesantren mengharamkan segala hal yang identik kebarat-baratan seperti memakai jas dasi dan topi. Langkah ini mengakibatkan Kiai Wahid dikritik oleh sejumlah kiai pesantren. Akan tetapi Kiai Wahid bersikukuh melanjutkannya. Salah satu alumni madrasah Nizamiyyah yang menjadi tokoh penting negeri ini adalah KH Achmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984-1991).
Bagi Kiai Wahid tidak semua yang berasal dari Barat adalah tercela, negatif. Apalagi dalam Konteks pengembangan keilmuan selaras dengan pepatah "ambil yang bersih, buang yang kotor". Prinsip Kiai Wahid ini kemudian diikuti oleh beberapa pesantren Jombang seperti Pondok Peterongan yang pada masa Kiai Mustain Romli dikenal memiliki motto "Berhati Makkah berotak London".
Tidak cukup dengan penataan sistem pendidikan pesantren, Kiai Wahid juga menjadi pelopor perpustakaan di dalam Pesantren Tebuireng yang menyediakan kira-kira seribu judul. Buku dan majalah koleksi Kiai Wahid juga ditempatkan dalam perpustakaan dan para santri dianjurkan untuk membacanya. Inisiasi ini tentu bertujuan meningkatkan wawasan keilmuan pesantren. Terlebih pada waktu itu masih belum ada perpustakaan pesantren layaknya perpustakaan Tebuireng.
Dari tradisi baca tulis dan mendirikan perpustakaan inilah para santri diharapkan mampu berkiprah menjawab tantangan zaman sesuai adagium "al-muhafazoh alaI Qadim al-salih wa al-akhdzu bil Jadid al-aslah."
Baca juga: Kisah Keajaiban dan Percakapan Jenderal Sudirman dengan Kiai Wahid Hasyim
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.