TikTok pun seolah menyadari masalahnya. Dalam posting blog pada 4 Maret lalu, TikTok mengatakan pihaknya menggunakan kombinasi teknologi dan orang-orang untuk melindungi platform mereka dan bermitra dengan pemeriksa fakta independen untuk memberikan lebih banyak konteks.
TikTok mengatakan kepada AFP bahwa mereka memiliki penutur bahasa Rusia dan Ukraina, tetapi tidak mengatakan berapa banyak. TikTok juga mengatakan bahwa mereka telah menambahkan sumber daya yang secara khusus berfokus pada perang, tetapi tidak memberikan perincian.
Sementara itu, yang menjadi perhatian khusus dengan TikTok adalah usia penggunanya. Misalnya sepertiga pengguna di Amerika Serikat (AS), berusia 19 tahun atau lebih muda.
Semua yang diwawancarai menekankan bahwa informasi yang salah merajalela di semua media sosial, tetapi TikTok telah melakukan lebih sedikit untuk memeranginya ketimbang Facebook, Instagram atau Twitter. Para pengguna TikTok juga relatif belum bergabung dalam platform lain.
(Susi Susanti)