“Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: Kamu di sini sudah tidak punya salah dan tidak punya utang. Adapun yang masih belum ikhlas dengan utangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara, aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya utang di Sulam, atau yang diutangi Sulam, tagihlah aku,” tutur Kiai Hasyim.
Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy’ari. Juga salah satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar bagaimana utangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang ‘santri nakal’.
Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini ekspansi kulturalnya diekspor ke berbagai negara itu, tak mudah marah.
Kiai Hasyim memperlakukan santri yang nakal di luar batas kewajaran – dengan mengaku telah meninggal sekalipun – dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Membalas kekonyolan dengan harum kebaikan. Ini baru akhlak seorang ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya tak ada tandingannya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.