ILHAM yang dipancarkan oleh Gusti Allah ke dalam dada Sunan Kalijaga, memunculkan inspirasi di pikirannya, kemudian ia segera mengumpulkan tatal-tatal kayu jati yang ada di sekitarnya.
Setelah terkumpul dalam satu tumpukan, ia segera mengatur sedemikian rupa sehingga menjadi berbentuk seperti sebuah saka guni yang sama ukurannya dengan tiang para Wali Sanga lainnya. Saka guru atau tiang itu kemudian disebut dengan 'saka tatal'.
Kepada para Wali Sanga lainnya, Sunan Kalijaga sempat menjelaskan mengenai makna di balik pembuatan 'saka tatal', yakni bahwa ia sebenarnya melambangkan tentang persatuan dan kesatuan.
Meski tatal tatal itu ukurannya kecil-kecil dan seperti barang yang tak berguna, tetapi jika ditata dengan baik, ternyata ia menjadi 'saka guni' yang tak kalah kuat dan indahnya dengan 'saka guru' dari kayu jati glondhongan.
"Saka tatal ini pun memiliki makna lain. Yaitu bahwa sesungguhnya jika rakyat kecil itu diadakan suatu pembinaan yang baik, maka ia akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa," tutur Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga mengatakan, saka tatal bak sapu lidi, sebuah lidi memang kurang bermanfaat, tetapi jika dikumpulkan menjadi satu akan bermanfaat.
"'Saka tatal' ini memiliki filosofi seperti sapu lidi. Sebuah lidi, tentu ia kurang bermanfaat, tetapi setelah lidi-lidi dikumpulkan menjadi satu niscaya ia akan menjadi sebuah sapu lidi yang memiliki kemanfaatan, misalnya dipakai menyapu. Dan, sapu lidi pun kemudian menjadi kuat ketimbang sebuah lidi saja. Di sinilah pentingnya makna persatuan dan kesatuan rakyat." lanjutnya.