KH WAHID Hasyim meninggal dunia dalam kecelakaan. Jenazahnya diterbangkan dengan pesawat ke Surabaya didampingi keluarga.
"Baru pertama itu kami naik pesawat. Tapi tidak ada kebahagiaan sama sekali," ujar putranya, Umar Wahid.
Namun, dalam perjalanan tersebut ada yang menarik perhatiannya. Saat itu, terlihat orang-orang berjajar sepanjang jalan dari Surabaya ke Jombang. Hal itu sontak membuat perjalanan menjadi lambat.
Acap kali mereka meminta rombongan berhenti dan ingin mensholatkan jenazah di masjid-masjid setempat. Namun, permintaan itu tidak dituruti karena jenazah Kiai Wahid sudah lama menunggu dan harus segera dimakamkan.
Masyarakat hanya bisa berdiri dengan raut kesedihan seraya berdoa dan melambaikan tangan. Di kemudian hari, Gus Dur menyampaikan ke Umar.
"Masyarakat seperti itu ke Bapak bukan karena beliau pernah jadi menteri. Masyarakat (ketika itu) tidak tahu apa itu menteri. Juga bukan karena Bapak adalah putra Hadratus Syekh. Masyarakat memberikan sambutan seperti itu karena Bapak sangat memahami urusan masyarakat, tahu kebutuhan masyarakat, dan mau memperjuangkan kepentingan masyarakat."