Ibu mempunyai hati yang begitu besar dan mulia. Sedangkan ayahnya seorang guru yang keras. Sekalipun sudah berjam-jam, ia masih tega menyuruh belajar dan menulis. Ayahnya memiliki keyakinan, bahwa anaknya yang lahir di saat fajar menyingsing itu kelak akan menjadi ‘orang’.
“Kalau aku berbuat nakal—ini jarang terjadi—dia menghukumku dengan kasar. Seperti di pagi itu aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Ayah menjadi pucat karena marah. Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaya menyayangi binatang," ia menghardik.
“Aku bergoncang ketakutan. Ya, Pak."
Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: 'Tat Twan Asi, Tat Twam Asi' ?" Artinya 'Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.” Meski tidak sengaja dan meminta maaf, Bung Karno tetap dihukum.
Bung Karno merupakan orang yang berperilaku bagi namun ayahnya sangat ingin Bung Karno disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti.
Di tengah kemiskinan, Bung Karno selalu mencari permainan yang tak perlu mengeluarkan uang. Di dekat rumahnya tumbuh sebatang pohon dengan daunnya yang lebar.
Daun itu ujungnya kecil, lalu mengembang lebar dipangkalnya dan tangkainya panjang. Adalah suatu hari yang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa dirinya mempunyai permainan.
Seorang lalu duduk di bagian daun yang lebar, sedang yang lain menariknya pada tangkai yang panjang itu dan permainan ini tak ubahnya seperti eretan.
Kisah ini dilansir dari Buku Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adams
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.