Masalah kriminalitas juga menjadi perhatiannya. Ali juga tak segan turun dalam operasi penggerebekan pencopet di terminal bus. "Saya suruh mereka (pencopet) berbaris. Tampar beberapa muka, lalu kami bertemu di Balai Kota," kata Ali.
Tindakan kongkret semacam inilah yang secara signifikan menurunkan tingkat kriminalitas. Simpati untuk Ali pun mulai meluas. Lantaran terus dibelit masalah minimnya dana, Ali berpikir keras untuk mencari tambahan pendapatan bagi Pemda DKI.
Ali pun melirik sumber dana alternatif yang sangat subur, yakni perjudian - suatu langkah yang memicu kontroversi berkepanjangan. Sebetulnya UU No 11/1957 memungkinkan pemerintah daerah memungut pajak atas izin perjudian yang diberikan bagi pengusaha Cina.
Sebab, judi dianggap bagian dari budaya Cina. Namun, tak ada pejabat yang berani ambil risiko mengizinkan perjudian, yang haram bagi kaum muslim. Karena terpaksa, Ali tak gentar menantang arus.
"Untuk keperluan rakyat Jakarta, saya berani," katanya.
Sebagai permulaan izin perjudian pun diberikan pada pengusaha bemama Apyang dan Yo Putshong. Judi Lotto (lotere totalisator), petak sembilan, dan hwa-hwe, yang tadinya sembunyi-sembunyi, mulai dilakukan secara terang-terangan. Aneka jenis judi itu pun mulai diramaikan warga non-Cina.
Meski tak berjalan mulus, tetap ada protes, terutama dari kaum muslim. Sementara dampak finansialnya tak terbantahkan, limpahan uang perjudian ini memang berdampak positif bagi Jakarta.