BANJIR bandang Pemalang di tahun 1886 akan dibahas dalam artikel ini. Curah hujan yang tinggi dibanding daerah lain menjadi salah satu faktor kawasan pemalang mudah banjir. Pada rentang tahun 1905-1930-an, banjir menerjang daerah yang berdekatan dengan sungai dan bendungan, serta daerah pesisir yang ketinggian tanahnya relatif rendah.
(Baca juga: Banjir Bandang Terjang Ciwidey, Robohkan Jembatan dan Rumah)
Dilansir beragam sumber, Selasa (21/6/2022) bencana terjadi pada Februari 1886, dalam De Nieuwe Vorstenlanden, banjir bandang menerjang Pemalang, merendam sawah, perkebunan tebu, Jalan Pos (postweg), bahkan merusak tanggul di beberapa sungai.
Banjir juga turut menjangkau Comal, yang terletak di sebelah barat Pekalongan. Dilaporkan bahwa tidak ada korban jiwa dalam banjir tersebut, tetapi bencana ini menyebabkan pemukiman dan lahan perkebunan warga menjadi terendam.
Melihat bencana tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda rupanya menaruh perhatian dalam menangani musibah tersebut.
Pada tahun 1930, dikeluarkan anggaran f. 18.756 (gulden) oleh pemerintah kolonial di Karesidenan Pekalongan, Regent Pemalang menginisiasi untuk melakukan pembenahan kota yang porak poranda usai bencana banjir bandang Pemalang.