Share

Pria Muda Arab Gandrungi Penggunaan Obat Anti-Impoten Viagra, Kenapa?

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 Juli 2022 03:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 18 2621330 pria-muda-arab-gandrui-penggunaan-obat-anti-impoten-viagra-kenapa-RlqjdIXMoh.jpeg Ilustrasi/ Foto: Medicaldaily

JAKARTA - Ahli herbal Rabea al-Habashi mengungkapkan bahwa ada perubahan karakter pelanggannya belakangan ini. Anak muda Arab tak lagi membeli "ramuan ajaib" yang dijual di apotek miliknya di Kota Kairo dan lebih memeilih obat pabrikan produksi Barat.

"Kebanyakan pria kini mencari pil biru yang mereka dapatkan dari perusahaan-perusahaan Barat," ujarnya dilansir dari BBC, Kamis (30/6/2022).

 BACA JUGA:Cek Fakta: Obat Viagra Ampuh Sembuhkan Covid-19?

Pengamatan Habashi ini cocok dengan kajian yang menunjukkan kaum muda Arab semakin banyak membeli obat-obatan seperti sildenafil (dikenal dengan nama komersial Viagra), vardenafil (Levitra, Staxyn), dan tadalafil (Cialis).

Meskipun, sebagian besar pria muda Mesir dan Bahrain membantah menggunakan obat untuk menangani lemah syahwat. Mereka mengaku tidak mengetahui obat-obatan tersebut.

Faktanya, berdasarkan kajian pada 2012, Mesir adalah pelanggan obat anti-impoten terbesar per kapita kedua di antara negara-negara Arab. Posisi pertama adalah Arab Saudi.

 BACA JUGA:Perawat Ini Sadar dari Koma Selama 25 Hari Akibat Covid-19 Usai Diberi Viagra Sebelum Ventilator Dimatikan

Harian Saudi Al-Riyadh, menerbitkan laporan yang memperkirakan saat itu warga Saudi telah menghabiskan US$1,5 miliar atau Rp22,2 triliun per tahun untuk obat-obatan anti-impoten.

Konsumsi warga Saudi tergolong 10 kali lipat lebih tinggi dari konsumen Rusia, yang populasinya lima kali lebih banyak.

Baru-baru ini, hasil kajian the Arab Journal of Urology menunjukkan bahwa 40% responden pria muda Saudi pernah menggunakan obat seperti Viagra setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Adapun Mesir, berdasarkan statistik resmi negara itu pada 2021, penjualan obat anti-impoten di sana mencapai US$127 juta atau Rp1,8 triliun per tahun, yang setara dengan 2,8% dari seluruh nilai penjualan farmasi di negara tersebut.

 BACA JUGA:Perawat Ini Sadar dari Koma Selama 25 Hari Akibat Covid-19 Usai Diberi Viagra Sebelum Ventilator Dimatikan

Pasar Potensial Perusahaan Lokal

Tingginya minat konsumen mendorong perusahaan lokal turut memproduksi obat anti impoten tersebut. Pada 2014 di supermarket Mesir muncul obat berwarna cokelat bernama Al-Fankoush. Al-Fankoush dijual seharga satu pound Mesir atau sekitar Rp775.

Namun, sesaat setelah beredar di pasaran, distribusi Al-Fankoush dihentikan apparat lantaran media setempat melaporkan bahwa obat itu juga dijual ke anak-anak.

Penggunaan obat anti-impoten diketahui lebih banyak dipakai pria yang lebih tua ketimbang pria muda. Namun, di Yaman, data dari kementerian kesehatan setempat menunjukkan obat tersebut paling banyak dikonsumsi pria kelompok umur 20 hingga 45 tahun.

Laporan media di negara tersebut menyebut Viagra dan Cialis justru dipakai pria muda sebagai obat-obatan rekreasional saat pesta sejak awal perang sipil antara kubu pemberontak Houthi dan koalisi pimpinan Saudi pada 2015.

 BACA JUGA:Berikut Pesan dari Ketua DPD Perindo Jakbar kepada Pemuda yang Ingin Gapai Cita-Cita

Mohamed Sfaxi, guru besar urologi dan bedah alat reproduksi, menekankan dalam wawancara dengan BBC bahwa obat-obatan semacam itu "bukan stimulan" dan seharusnya dipakai untuk menangani keluhan-keluhan yang dalam banyak kasus "dirasakan kaum lansia".

Sementara itu, seorang pakar seksualitas di Timur Tengah menilai kaum muda Arab mengonsumsi pil anti-impoten karena faktor budaya.

"Alasannya boleh jadi merujuk ke masalah lebih besar yang dihadapi kaum muda Arab," jelas Shereen El Feki, wartawan Mesir-Inggris sekaligus penulis buku berjudul Sex and the Citadel: Intimate Life in a Changing Arab World.

 BACA JUGA:Bocah Kecil Butuh Ganja untuk Medis, Komisi III DPR Revisi UU Narkotika

Hampir semua responden pria khawatir soal masa depan dan bagaimana mereka akan menafkahi keluarga mereka. Banyak pria bicara mengenai tekanan besar menjadi seorang pria, sementara kaum perempuan menilai 'bagaimana pria bukan lagi pria'.

"Itu artinya para pria berada dalam tekanan dan kemampuan seksual terjalin dalam budaya maskulinitas, sehingga ada banyak tekanan pada kemampuan seksual," ujarnya.

Di sisi lain, El Feki mengaitkan sorotan terhadap kemampuan seksual pada salah kaprah dan ekspektasi berlebihan yang diciptakan pornografi sehingga "mengubah pemikiran pria muda mengenai apa yang tergolong 'normal' ketika menyangkut kejantanan." (NAN)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini