NEW YORK - Para ilmuwan mengatakan dunia sedang mengalami salah satu kekeringan paling meluas dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah wilayah bahkan memecahkan rekor. Kekeringan "kilat" yang terjadi secara tiba-tiba juga menjadi lebih umum.
"Ini adalah tahun yang cukup luar biasa untuk kekeringan di belahan bumi utara, dengan kekeringan panas yang hampir memecahkan rekor atau memecahkan rekor secara bersamaan dialami Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, dan China," kata Benjamin Cook, seorang ilmuwan senior dan peneliti kekeringan di Badan Antariksa Amerika Serikat, (NASA), dikutip BBC.
"Terlepas dari bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kekeringan spesifik ini [tahun ini]," lanjutnya.
“Ini adalah peristiwa yang harus kita persiapkan seiring kita terus bergerak ke masa depan yang lebih hangat,” ujarnya.
Baca juga: Imbas Kekeringan Parah, Jejak Kaki Dinosaurus dari 113 juta Tahun Lalu Muncul ke Permukaan
Namun wilayah lain juga terkena dampak parah, termasuk Afrika Timur, Amerika Selatan, beberapa wilayah Asia dan beberapa bagian Australia.
Baca juga: 'Putar Otak' Atasi Kekeringan Danau, Israel Akan Pompa Air dari Laut Mediterania
Salah satu kawasan yang mengalami dampak terparah adalah wilayah Tanduk Afrika, tempat musim hujan tidak turun selama bertahun-tahun.
Situasi di kawasan itu menyebabkan keadaan yang disebut oleh Nuur Mohamud Sheekh, juru bicara blok perdagangan regional (IGAD), sebagai "kekeringan terburuk dalam 40 tahun". Dia berkata, keadaan itu berdampak pada ketahanan pangan bagi sekitar 50 juta orang.
Afrika menderita kekeringan lebih sering daripada benua lain, menurut laporan oleh Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD). Dari 134 kejadian kekeringan di benua itu antara tahun 2000 hingga 2019, 70 di antaranya terjadi di Afrika Timur.