BAGHDAD - Krisis politik di Irak memburuk setelah bentrokan berdarah antar kelompok-kelompok Syiah yang saling bersaing. Setidaknya 22 orang tewas. Duta Besar Indonesia Untuk Irak menghimbau agar seluruh warga Indonesia di negara itu tidak keluar rumah dulu dan mematuhi aturan yang disampaikan.
Jam malam yang diberlakukan di Irak sebagai tanggapan atas kerusuhan yang terjadi sejak Minggu (28/8/2022), telah dicabut pada Selasa (30/8/2022).
Tetapi mengingat masih belum kondusifnya situasi keamanan di negeri seribu satu malam itu, terutama di wilayah ibu kota Baghdad dan beberapa kota di dekatnya, Duta Besar Indonesia Untuk Irak Elmar Iwan Lubis tetap meminta seluruh warga negara Indonesia (WNI) di sana untuk tidak keluar rumah dulu.
“Kami menghimbau seluruh warga Indonesia untuk tetap tinggal di mana mereka berada sekarang, sama seperti kami orang KBRI yang saat ini masih dan semua diplomat asing yang ada semua masih tinggal di rumah, hunker down, dan terus melakukan komunikasi dan kontak dengan KBRI,” ujar Elmar sebagaimana dilansir dari VOA Indonesia.
Terdapat sekira 491 warga Indonesia yang tinggal di Irak, dan sebagian besar berada di kota Baghdad dan Basra. Mereka rata-rata berprofesi sebagai pakar teknik di perusahaan-perusahaan minyak, mahasiswa, dan pekerja migran. Sejauh ini KBRI di Irak senantiasa berkomunikasi dengan simpul-simpul warga Indonesia tersebut.
Krisis politik di Irak memburuk setelah kelompok-kelompok Syiah yang saling bersaing tidak berhasil menemukan jalan keluar dari kebuntuan politik selama sepuluh bulan terakhir ini.