Share

Pakistan Butuh 6 Bulan untuk Membuat Banjir Surut, Ancaman Kolera dan Demam Berdarah Meningkat

Susi Susanti, Okezone · Rabu 14 September 2022 19:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 14 18 2667643 pakistan-butuh-6-bulan-untuk-membuat-banjir-surut-ancaman-kolera-dan-demam-berdarah-meningkat-hZNZzA1NbX.jpg Banjir dahsyat di Pakistan (Foto: AP)

PAKISTAN - Pihak berwenang di Pakistan telah memperingatkan bahwa diperlukan waktu hingga enam bulan untuk membuat banjir surut di daerah-daerah yang paling parah. Kekhawatiran pun meningkat atas ancaman yang ditimbulkan oleh penyakit yang ditularkan melalui air termasuk kolera dan demam berdarah.

Banjir yang disebabkan oleh rekor hujan monsun dan pencairan gletser di wilayah pegunungan utara Pakistan sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari 1.400 orang, dan mempengaruhi sekitar 33 juta lebih. Banjir ini menghanyutkan rumah, jalan, rel kereta api, ternak, dan tanaman. Kerusakan sekarang diperkirakan berjumlah lebih dari USD30 miliar (Rp447 triliun), tiga kali lipat dari perkiraan sebelumnya yakni sekitar USD10 miliar (Rp149 triliun).

Baca juga: Badai Debu 'Terbangkan' Ratusan Tenda Pengungsi Korban Banjir Dahsyat Pakistan

“Karachi melihat wabah demam berdarah ketika ratusan dan ribuan pasien melapor setiap hari di rumah sakit pemerintah dan swasta. Kasus DBD tahun ini 50% lebih tinggi dari tahun lalu. Dengan 584.246 orang di kamp-kamp di seluruh negeri, krisis kesehatan dapat mendatangkan malapetaka jika tidak terkendali,” terang Menteri Iklim Pakistan Sherry Rehman, Senin (12/9/2022), dikutip CNN.

Baca juga: Terbang ke Pakistan, Sekjen PBB Galang Bantuan Internasional

Rehman memperingatkan negara itu sekarang menghadapi prospek kekurangan pangan besar-besaran, karena kerusakan tanaman pokok seperti beras dan jagung mencapai 70% dan sangat membutuhkan makanan, tenda, dan obat-obatan.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Meningkatnya air banjir juga tetap menjadi risiko, terutama di daerah yang terkena dampak parah di sepanjang Sungai Indus di provinsi Sindh, dengan prakiraan meteorologi menunjukkan curah hujan terus menerus diperkirakan akan berlangsung hingga September ini.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin (12/9/2022), Ketua Menteri Sindh Murad Ali Shah mengatakan hujan muson yang berkepanjangan akan memukul mundur upaya untuk membersihkan air, dengan perkiraan berkisar antara 3 hingga 6 bulan di beberapa daerah yang terkena dampak terburuk.

Dia menambahkan bahwa danau air tawar terbesar di negara itu, Manchar, telah meluap sejak awal September, dengan air banjir melanda beberapa ratus desa dan lebih dari 100.000 orang.

“Kami mempercepat upaya kami untuk menyediakan obat-obatan dan obat-obatan ke 81 kabupaten yang terkena bencana banjir di negara ini. Namun, ini masih perkiraan awal karena data baru muncul di lapangan,” ujarnya.

Baik pemerintah Pakistan dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres menyalahkan perubahan iklim global atas memburuknya cuaca ekstrem yang menyebabkan "musim hujan pada steroid", dan telah menenggelamkan sepertiga daratan negara itu.

Dalam kunjungan dua hari ke Pakistan yang dilanda banjir, Guterres menyatakan solidaritas mendalam dengan rakyat Pakistan atas hilangnya nyawa dan penderitaan manusia yang disebabkan oleh banjir tahun ini. Dia juga bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif tentang tanggap bencana.

Guterres meminta masyarakat internasional pada Jumat (9/9/2022) untuk mendukung Pakistan yang dilanda banjir, dengan alasan bahwa sementara kontribusi negara Asia Selatan terhadap perubahan iklim sangat minim, itu adalah salah satu yang paling terkena dampak konsekuensinya.

“Pakistan belum memberikan kontribusi yang berarti terhadap perubahan iklim, tingkat emisi negara ini relatif rendah, tetapi Pakistan adalah salah satu negara yang paling terkena dampak perubahan iklim secara dramatis, itu adalah garis depan dampak perubahan iklim,” ungkapnya setelah menghadiri briefing di Pusat Koordinasi Respon Banjir Nasional Pakistan (NFRCC) pada Jumat (9/9/2022).

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini