Share

Divonis 20 Tahun Penjara, Pecatan Polisi yang Bakar Pacarnya Banding

Dede Febriansyah, MNC Portal · Rabu 14 September 2022 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 14 610 2667178 divonis-20-tahun-penjara-pecatan-polisi-yang-bakar-pacarnya-banding-KCRofTOFp1.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

MUARAENIM - Andriansyah, pecatan polisi yang membakar pacarnya berinisial DN (24) divonis 20 tahun penjara. Sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) pada Selasa 13 September 2022.

Andriansyah melalui kuasa hukumnya, Heru Pudjo Handoko, akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Sebab, putusan tersebut dinilai masih terlalu tinggi. 

"Putusan 20 tahun itu adalah maksimal. Kami menilai masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, kami akan mengajukan banding," ujar Heru, Rabu (14/9/2022).

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Muara Enim, Alex Akbar, menyebut vonis hakim jauh lebih rendah dari tuntutan. Pecatan polisi berpangkat Brigadir tersebut dituntut penjara seumur hidup akibat pembunuhan berencana.

"Meskipun JPU pikir-pikir, nantinya kami akan lakukan banding. Apalagi, terdakwa juga sudah menyatakan banding," jelasnya.

BACA JUGA:Terjerat Narkoba, Pecatan Polisi Ditemukan Tewas Tergantung di Rutan Krui 

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Diberitakan sebelumnya, sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Muara Enim, Shelli Noveriyanti menyatakan terdakwa yang merupakan pecatan polisi terbukti membakar mantan kekasihnya, DN hingga meninggal dunia akibat luka bakar yang dialami korban.

"Secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP, dan menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 20 tahun penjara," ujar Shelli.

Majelis Hakim menilai perbuatan terdakwa dilakukan secara sadar. Meski vonis yang diberikan lebih ringan, Hakim memerintahkan JPU tetap membiarkan terdakwa meringkuk di dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Menurutnya, sikap terdakwa yang kooperatif dan mengakui perbuatannya selama proses hukum dijadikan dasar pertimbangan untuk meringankan tuntutan.

"Terdakwa secara sadar dan mengetahui keberadaan korban. Lalu membeli bensin dan membawanya ke rumah kontrakan tempat korban berada," ujarnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini