Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Musso, Tokoh PKI yang Belajar Komunisme Langsung dari Stalin di Uni Soviet

Hasan Kurniawan , Jurnalis-Kamis, 15 September 2022 |17:19 WIB
Musso, Tokoh PKI yang Belajar Komunisme Langsung dari Stalin di Uni Soviet
Musso (foto: dok ist)
A
A
A

Hingga akhirnya, datang kembali ke Indonesia bersama Kepala Perwakilan RI di Praha Soeripno atas nama Soeparto, pada 11 Agustus 1948. Saat itu, Musso membawa garis baru partai yang dia namakan sebagai "Jalan Baru" untuk Republik Indonesia. Kebijakannya itu berisi tentang apa yang harus dilakukan kaum komunis, dan kritik tajam atas kesalahan-kesalahan PKI selama berdirinya gerakan antifasis Jepang tahun 1935.

Kedatangan Musso, bagi kaum komunis saat itu disambut hangat oleh partai yang langsung mengikuti kebijakan "jalan baru" itu. Partai-partai berhaluan Marxisme-Leninisme yang ada saat itu berfusi di bawah satu komando PKI. Segera, PKI melakukan kampanye ke daerah-daerah yang menjadi basis komunis.

Saat melakukan kampanye itulah, peristiwa Madiun meletus sebagai akibat dari konflik bersenjata yang terjadi di Solo dan Madiun. Saat itu, Musso bersama Amir Sjarifuddin dan Setiadjid, sedang berada di Purwodadi. Ketika itu, Musso masih mengharapkan oposisi lewat jalan parlementer. Namun begitu, Musso menyetujui keputusan sepihak tokoh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Sumarsono yang mengambil alih kekuasaan sipil di Madiun dan mendirikan Republik Demokrasi Rakyat Indonesia, di corong Radio Gelora Pemuda, pada 18 September 1948.

Bahkan kemudian, gerakan Sumarsono itu diambil alih oleh Musso dan berganti nama menjadi Pemerintah Front Nasional sesuai ide Musso untuk menyatukan kekuatan-kekuataan rakyat. Dalam pemerintahan itu, Hatta mengecap Musso akan menjadi Presiden dan Mr. Amir Syarifuddin sebagai perdana menterinya. Serupa dengan pemberontakan rakyat 1926-1927, pemberontakan di Madiun dengan mudah ditumpas.

Hanya dalam tempo 12 hari, pemerintahan rakyat di bawah Pemerintahan Front Nasional berhasil direbut kembali ke pangkuan republik. Dampak dari perbuatan ini tidak kalah merugikan, sekira 8.000 kaum komunis terbunuh, dan 36.000 orang dipenjara. Dalam situasi perang itu, Musso berpisah seorang diri dengan rekan-rekannya. Minggu 31 Oktober 1948, dia bertemu dengan anggota laskar prorepublik, di Desa Balong. Saat itu, Musso membawa gendolan sarung berisi jas hujan. Saat dilakukan penggeledahan, dia mengeluarkan pistol dan menembak laskar itu. Lalu melarikan diri dengan merampas sepeda milik warga.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan dokar dan ikut menumpang. Di bawah todongan pistol, sopir dokar yang ketakutan dipaksa jalan. Di tengah jalan, dokar yang dibajak Musso bertemu dengan mobil yang berisi tentara dari Batalion Sunandar. Musso menghentikan dokar, dan menghadang mobil itu. Secepat kilat, Musso menodongkan pistol ke arah mereka. Nahas bagi Musso, rampasan mobil itu tidak mau hidup saat si starter. Lalu, dia melanjutkan pengembaraannya ke desa terdekat. Di sana, dia ketahuan sembunyi di kamar mandi. Karena tetap tidak mau menyerah, dia ditembak mati. Mayatnya kemudian dibawa ke Ponorogo, dan dipertontonkan kepada warga. Lalu, massa yang emosi membakar mayatnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement