JAKARTA - Pada 30 September 1999 telah terjadi insiden kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Tokaimura, Jepang. Insiden tersebut telah terjadi 23 tahun yang lalu dan menjadi kecelakaan nuklir terburuk di Jepang.
BACA JUGA: Kisah 'Manusia Radioaktif' Hishashi Ouchi, Dijaga Tetap Hidup Meski Kulit Meleleh dan Menangis Darah
Sebanyak 49 orang sama ruangan terpapar radiasi yang berbahaya dan berdampak ke pemukiman warga. Salah satu teknisi bernama Hisashi Ouchi, (35) menjadi korban dengan luka cukup parah sebagian kulitnya hilang meleleh, juga mengeluarkan air mata darah.
Insiden ini berawal dari penelitian khusus yang dilakukan Japan Nuclear Fuel Conversion Co. (JCO) di PLTN Tokaimura. Namun, perusahaan operator PLTN itu kurang memperhatikan langkah-langkah keamanan, bahkan mengambil jalan singkat untuk memenuhi target waktu yang diestimasikan.
Pada hari nahas itu JCO memerintahkan kepada Ouchi dan dua rekan kerja lainnya untuk mencampur bahan bakar nuklir baru.
Ouchi bersama dua rekannya, Masato Shinohara, (29) dan Yutaka Yokokawa, (54) ternyata tidak berpengalaman dan terlatih dalam menjalankan tugas yang telah di perintahkan itu. Dengan tidak sengaja mereka asal menuangkan cairan Uranium tujuh kali lipat ke dalam tangki yang tidak layak pakai.
BACA JUGA: 10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram
Ketika Cairan tersebut tercampur dan tidak bertahan lama lalu melepaskan radiasi neutron dan sinar gamma yang berbahaya mengenai seluruh isi ruangan dan menyebabkan ledakan hebat.
Ketiga pekerja itu terpapar radiasi akibat ledakan tersebut. Ouchi bahkan terkena radiasi level 17 sierverts (Sv) atau 10 Sv melebihi dosis yang semestinya.