Share

4 Wilayah Ukraina Gelar Referendum Gabung Rusia, Pengamat: Putin Beri Ultimatum Perang Nuklir!

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 22 September 2022 13:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 18 2672712 4-wilayah-ukraina-gelar-referendum-gabung-rusia-pengamat-putin-beri-ultimatum-perang-nuklir-jIhlrB7BuJ.jpg Foto: Reuters.

LONDON - Empat wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina akan menggelar referendum pekan ini untuk bergabung dengan Federasi Rusia. Pengumuman referendum ini dilakukan secara berkoordinasi pada awal pekan ini, yang diduga menunjukkan bahwa Kremlin telah membuat keputusan untuk secara resmi mencaplok wilayah-wilayah tersebut.

Wilayah Donetsk dan Luhansk, Zaporozhzhia, dan Kherson telah mengumumkan akan menggelar referendum pada 23-27 September. Keempat wilayah tersebut mencakup sekira 15% dari wilayah Ukraina.

Pengamat menilai bahwa langkah Moskow ini adalah upaya untuk menghambat gerak maju pasukan Ukraina yang secara cepat merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Rusia di selatan dan timur negara itu.

Saat pasukan Ukraina mulai membuat kemajuan di wilayah Luhansk, Rusia mungkin khawatir bahwa mereka tidak dapat menang dalam peperangan yang terus berlangsung. Dengan referendum ini, Rusia mengancam potensi eskalasi konflik, termasuk deklarasi perang penuh, bahkan penggunaan nuklir, dengan dalih mempertahankan wilayahnya sendiri.

“Semua yang terjadi hari ini adalah ultimatum yang benar-benar tegas kepada Ukraina dan Barat,” kata Tatiana Stanovaya, pakar politik Kremlin sebagaimana dilansir Guardian. "Entah Ukraina mundur atau akan ada perang nuklir."

"Untuk menjamin 'kemenangan', Putin siap menggelar referendum segera untuk mendapatkan hak (dalam pemahamannya) untuk menggunakan senjata nuklir untuk mempertahankan wilayah Rusia."

Beberapa saat setelah pengumuman referendum, Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pasukan Rusia untuk dikerahkan ke Ukraina. Dengan deklarasi itu, hingga 300 ribu pasukan cadangan Rusia akan dimobilisasi untuk diterjunkan ke Ukraina.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev mendukung langkah referendum ini, yang menurutnya "benar-benar mengubah vektor perkembangan Rusia selama beberapa dekade".

“Itulah mengapa referendum ini sangat ditakuti di Kiev dan di Barat,” tulis Medvedev di akun Telegramnya. “Itulah mengapa mereka perlu dilakukan.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan bahwa referendum tidak akan mencegah Ukraina untuk terus “membebaskan wilayahnya”.

“Referendum palsu tidak akan mengubah apa pun,” kata Kuleba.

“Tidak akan ada 'mobilisasi' hibrida. Rusia telah dan tetap menjadi agresor yang secara ilegal menduduki bagian-bagian tanah Ukraina. Ukraina memiliki hak untuk membebaskan wilayahnya dan akan terus membebaskan mereka, apa pun yang dikatakan Rusia.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini