JAKARTA - Habibie tidak memiliki banyak waktu untuk tidur ketika tiga bulan pertamanya bekerja di Talbot, sebuah perusahaan yang memproduksi gerbong kereta api di Jerman. Hari-harinya hanya untuk memahami dan memperhatikan pekerjaannya.
Banyak permasalahan baru yang muncul sehingga membuat Habibie harus mengerti dan perhatikan sebelum dia mulai merekayasa. Setelah Habibie memahami dan mengetahui kendala dan batasan bangun Kereta Api (KA), maka dasar dan prinsip penerapan teknologi konstruksi ringan mulai diterapkannya.
“Saya merubah konstruksi konvensional dan konservatif yang sejak puluhan tahun diterapkan pada KA dengan prinsip dasar konstruksi ringan yang sudah diterapkan di Industri Dirgantara. Saya mulai mempengaruhi dan merubah konstruksi dan bentuk Gerbong KA,” kata Habibie melansir dari buku Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie & Ainun.
Melihat hal tersebut, Para ahli konstruksi di Talbot menggelengkan kepala dan memberi komentar yang sangat kritis. Dimana hampir semuanya berpendapat bahwa perubahan yang diusulkan oleh Habibie akan gagal.
Namun, Habibie memiliki Ainun yang selalu mendampingi dan mengilhaminya. Baginya, Ainun itu sangat berbakat dalam bidang ilmu eksakta dan fisika, karena Ayah dan kakak kandung Ainun berpendidikan bidang ilmu rekayasa, sehingga lingkungan kehidupan Ainun sangat dipengaruhi oleh bidang eksakta.
Tender yang Habibie menangkan yaitu mengenai “Gerbong Ruang Luas atau Großraum Wagen” untuk mengangkut muatan ringan seperti produk komponen elektronik.
Habibie bersama dengan satu Tim Insinyur perusahaan Talbot yang membantunya, mulai merekayasa, membuat prototipe Gerbong Ruang Luas yang dites di Balai Percobaan dan melakukan Penelitian Perusahaan KA Jerman Deutsche di kota Minden.