Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perempuan Dituduh Gerwani hingga Stigma yang Belum Hilang

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 29 September 2022 |05:05 WIB
Kisah Perempuan Dituduh Gerwani hingga Stigma yang Belum Hilang
Kisah para perempuan yang dituduh Gerwani. (BBC)
A
A
A

'Pertarungan' narasi

Namun, tak bisa dipungkiri, gelombang protes yang memicu lengsernya Orde Baru dan melahirkan Reformasi telah membawa angin segar pada pelurusan sejarah tentang Peristiwa 65.

Namun, apakah perspektif generasi muda saat ini terhadap Gerwani telah mengalami perubahan?

Giovano Melvernus Hendrawan, yang lahir menjelang lengsernya Orde Baru, menyebut, sepengetahuannya, Gerwani adalah organisasi selain PKI yang terlibat G30S. Lain dari itu, ia tidak mengetahui tentang seluk-beluk Gerwani.

"Gerwani singkatannya Gerakan Wanita Indonesia, bener? Ya mereka mungkin seperti organisasi wanita yang memperjuangkan emansipasi wanita. Itu sepengetahuan saya," jelas pemuda berusia 26 tahun itu.

"Kalau sepanjang pengetahuan yang saya dapatkan, Peristiwa G30S andil terbesar tetap ada di PKI sih, itu sepanjang pengetahuan saya," tambah Giovano yang mengaku mendapat pengetahuan tentang Peristiwa 65 dari pelajaran sejarah dan dari internet.

Ia mengatakan, dalam buku-buku sejarah yang ia pelajari ketika sekolah, "PKI berencana mengkudeta dengan menyandera para tokoh yang sangat vital saat itu, jenderal-jenderal TNI. Dengan tujuan mereka ingin mendirikan negara berideologi komunis di Indonesia".

Sementara, Hesti Melinda, perempuan berusia 20 tahun yang lahir setelah era Orde Baru berakhir, mengaku tak tahu-menahu tentang Gerwani, PKI dan G30S.

"Peristiwa 65? Saya nggak tahu," akunya.

Jawaban sama ia utarakan ketika BBC News Indonesia menanyakannya tentang "pahlawan revolusi".

Sedangkan Loni Velianda, mengaku kerap mencari referensi di dunia maya dan film dokumenter berkaitan dengan tragedi 1965 "karena penasaran" dengan sejarah peristiwa tersebut.

"Pengen tahu jelasnya sih, kronologinya gimana, fakta-faktanya gimana," aku perempuan berusia 21 tahun itu.

Ia mengaku pernah mendengar tentang Gerwani, namun ketika ditanya lebih lanjut apa yang ia ketahui tentang organisasi perempuan tersebut, ia mengaku "lupa".

Apa yang terjadi saat ini, kata sejarawan Bonnie Triyana, adalah "pertarungan" narasi sejarah 65.

"Pada akhirnya pertarungan ini terjadi di wilayah masyarakat. Tapi itu jauh lebih baik, daripada perdebatan ini disudahi dengan versinya pemerintah lagi."

Kendati begitu, diakui Bonnie, perspektif generasi muda tentang Peristiwa 65 telah mengalami perubahan secara perlahan.

Menurutnya, konotasi negatif yang disematkan kepada para penyintas dan keturunan mereka selama setengah abad terakhir perlahan luntur.

"Sementara stigmanya masih kuat, tapi saya optimis mungkin 10 tahun lagi orang sudah mulai berubah, anak muda sekarang sudah mulai berubah, sudah mulai bisa lebih memaknai masa lalunya dan mencari tahu kebenaran yang sudah berserak."

Sementara, Saskia memperingatkan bahwa propaganda anti-komunis hingga kini masih tetap ada.

Menurutnya, Indonesia perlu "belajar dari sejarah" supaya stigma dan trauma akibat propaganda anti-komunis tak terulang kembali.

"Hanya negara yang bisa belajar dari sejarahnya sendiri yang bisa menjadi dewasa dan Indonesia sampai sekarang belum bisa maju, belum bisa menjadi negara yang punya keadilan sosial untuk semua warga Indonesia, kata Saskia.

"Selama orang Indonesia tetap pikir bahwa Gerwani salah, gerakan perempuan juga tidak bisa tumbuh, karena setiap aktivis perempuan sekarang kalau terlalu aktif dan mereka menuntut hak-hak mereka yang sebenarnya ada di konstitusi Indonesia, langsung dicap Gerwani baru, sampai sekarang pun."

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement