Namun ternyata pembangunannya tidaklah semudah membalikkan tangan. Ada kisah pilu di baliknya. Edhi adalah orang yang kerap diberikan kepercayaan Bung Karno, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia. Kepercayaan yang diberikan karena Edhi mahir dalam membuat patung.
Perkenalan Edhi dengan Bung Karno berawal dari sebuah kompetisi pembangunan Tugu Semarang. Edhi menjadi juara dua mengalahkan peserta yang berasal dari 117 negara.
Saat peresmian Tugu Muda Semarang, Bung Karno mendatangi dan menjabat tangan Edhi memberikan selamat. Tentu hal itu membuat Edhi bingung. Setelah itu, Edhi mendapat beasiswa untuk belajar di India atas biaya Unesco.
Kala itu, Bung Karno berprinsip agar pembangunan negara, termasuk pendirian monumen, harus dikerjakan oleh anak bangsa. Tahun 1958, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta yang akan diselenggarakan pada tahun 1962, Bung Karno memanggil Edhi ke Jakarta dan memintanya mengerjakan patung perunggu setinggi sembilan meter.
Tentu permintaan itu mengejutkan Edhi, masalahnya ia belum pernah membuat patung dengan material perunggu. “Pak, jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya belum pernah membuat patung perunggu. Bagaimana mungkin saya bisa melaksanakan pekerjaan ini?”, jawab Edhi dengan canggung.