JAKARTA - Para ilmuwan terus memperbaiki data populasi walrus untuk mengevaluasi bagaimana spesies kunci di wilayah kutub ini akan terdampak oleh perubahan iklim. Salah satunya dengan menggunakan citra satelit.
Walrus sangat bergantung pada lautan es, yang belakangan ini telah berkurang secara tajam. Mamalia laut ini akan naik ke atas lapisan-lapisan es yang mengambang dan menggunakannya sebagai tempat beristirahat, membesarkan anak-anak mereka, juga menjadikannya pijakan untuk meluncur saat akan mencari makan.
BACA JUGA:Ketika Pagoda Berusia 522 Tahun Roboh Akibat Hujan Deras, Kumpulkan Donasi untuk Dibangun Kembali
Seekor walrus akan terjun ke dasar laut untuk mencari makanan di antara lumpur, seperti kerang dan hewan invertebrata lain seperti siput, kepiting cangkang lunak, dan udang.
Semua ini menjadi lebih sulit ketika lautan es musiman berkurang.
"Kami melihat sekitar 13% es laut yang menyusut per dekade," kata Rod Downie, kepala peneliti kutub dari kelompok lingkungan WWF, dilansir dari BBC, Selasa (11/10/2022).
BACA JUGA:Tindaklanjuti Keluhan Warga, Satpol PP Temukan 1Kg Ranjau Paku di Ruas Jalan Jakarta Pusat
Salah satu implikasi tidak adanya lapisan es untuk dinaiki adalah, kita semakin sering melihat walrus menghabiskan lebih banyak waktu di atas daratan.
"Dan ini memiliki beberapa dampak, seperti kepadatan yang bisa mengakibatkan anak-anak walrus terinjak-injak. Ini benar-benar terjadi. Juga akan terjadi kekurangan sumber makanan di sekitar mereka," ujarnya kepada BBC.
WWF meluncurkan proyek "Walrus dari Luar Angkasa" ini bekerja sama dengan British Antarctic Survey (BAS), yang ahli di bidang survei satelit untuk kehidupan alam liar di kutub.
BAS sebelumnya sudah pernah menghitung pinguin dari orbit, dan kini juga mendata jumlah singa laut, albatross, bahkan paus yang hidup di dalam air.