Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Candi Borobudur, Kapan Berdiri hingga Pernah Terkubur Akibat Letusan Gunung Merapi

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 29 Oktober 2022 |07:06 WIB
Sejarah Candi Borobudur, Kapan Berdiri hingga Pernah Terkubur Akibat Letusan Gunung Merapi
Foto Candi Borobudur pada 1918. (Foto: Leiden University Libraries)
A
A
A

Pemerintah kemudian membentuk komite khusus untuk menyusun rencana perlindungan fisik Candi Borobudur pada 1900. Kemudian pada 1905, pemerintah Belanda menyetujui proposal komite untuk mengalokasikan anggaran sebesar 48.800 gulden dan menunjuk Theodor van Erp untuk menjalankan proyek restorasi itu.

Van Erp memulai pekerjaannya pada Agustus 1907. Dia memulai dengan mengumpulkan batu-batu yang terpisah sebanyak mungkin, menggali di sekitar candi, hingga menemukan banyak ornamen.

Restorasi yang lebih besar pun dirasa diperlukan. Pada 1908, pemerintah Belanda menyetujui anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden.

Pemugarannya meliputi pembenahan stupa induk dan stupa teras, pembenahan dinding-dinding lorong dan panggar langkan (Rupadhatu), serta pembenahan selasar dan rampung pada 1911.

Namun pemugaran pertama oleh Van Erp hanya membenahi dan meratakan lantai, belum menyentuh kemiringan dinding yang semakin lama membahayakan.

Dikutip dari hasil kajian Balai Konservasi Borobudur, kemiringan terjadi karena tanah dasarnya tidak stabil karena terlalu banyak infiltrasi air yang masuk.

Pemugaran kedua akhirnya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan UNESCO pada 1973 hingga 1983. Pada saat itu dilakukan pembongkaran total batu-batu pada bagian Rupadhatu sekaligus memasang struktur penguat sebagai dasar dinding lorong.

Kunjungan wisatawan dan keausan batu

Sejak selesai dipugar pada 1983, ditambah dengan ditetapkannya Candi Borobudur sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1991, kunjungan wisatawan terus meningkat.

Sejumlah studi dan kajian telah memperhitungkan tingkat keausan batu, yang faktor utama pemicunya ditenggarai akibat aktivitas manusia.

Muhammad Taufik dalam tesisnya yang diterbitkan pada 2005 memperkirakan bahwa keausan batu akan lebih cepat terjadi apabila pengunjung candi mencapai tiga juta orang per tahun. Laju keausannya bisa mencapai 0,1 hingga 0,32 sentimeter per tahun.

Sedangkan pengamatan Balai Konservasi Borobudur pada 2010 menunjukkan bahwa keausan tangga terjadi pada keempat sisi Candi Borobudur dengan rata-rata keausan sebesar 49,15%. Hal itu disebut "memprihatinkan".

Kajian yang dilakukan oleh Brahmantara, yang merupakan Kepala Kelompok Kerja Pemeliharaan Candi Balai Konservasi Borobudur, pada 2008 mengidentifikasi bahwa laju keausan tangga berbanding lurus dengan jumlah kunjungan orang.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia, Marsis Sutopo melalui pesan teks kepada BBC News Indonesia.

"Karena kalau untuk berjalan naik-turun kan pada posisi menahan dan tergesek oleh sepatu, sehingga (bagian tangga) yang paling potensial mengalami keausan," kata Marsis kepada BBC News Indonesia.

Selain itu, bagian relief dinding juga banyak yang rusak akibat perubahan cuaca seperti panas, hujan, angin, ditambah lagi usia Candi Borobudur yang semakin tua, sehingga membutuhkan perawatan khusus.

"Yang mengkhawatirkan itu kan pengunjungnya bertambah pesat dari waktu ke waktu dan bertambah secara signifikan melebihi carrying capacity secara keruangan," kata dia.

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur pada 2019 menunjukkan bahwa daya tampung bangunan candi dengan mempertimbangkan faktor pemulihan hanya sebanyak 128 orang. Sedangkan tanpa mempertimbangkan faktor pemulihan, daya tampungnya sebesar 1.391 orang.

Sedangkan data jumlah kunjungan selama beberapa tahun belakangan menunjukkan bahwa pengunjung candi melebihi daya tampungnya.

Marsis mengatakan keausan dapat dicegah dengan membatasi jumlah pengunjung, menghindari pariwisata massal, serta mewajibkan pengunjung menggunakan alas kaki yang lunak sehingga tidak menggerus batu candi.

Meski demikian, Marsis mengatakan harga tiket masuk ke Borobudur harus tetap terjangkau bagi masyarakat dan wisatawan kelas bawah.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement