Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pidato Iftitah, Haedar Nashir Hadirkan 2 Pertanyaan Introspeksi Bagi Gerakan Persyarikatan Muhammadiyah

Bramantyo , Jurnalis-Minggu, 20 November 2022 |06:24 WIB
Pidato Iftitah, Haedar Nashir Hadirkan 2 Pertanyaan Introspeksi Bagi Gerakan Persyarikatan Muhammadiyah
A
A
A

“Gerak kemajuan ini tentu jadi agenda kita untuk bermuhasabah, berintrospeksi bagaimana dalam usia 110 tahun kita bisa mengagregasikan kemajuan dan etos kemajuan yang sudah kita miliki dan pada saat yang sama kita tahu kekurangan dan kelemahannya. Kita sudah cukup untuk mendaftar kemajuan- kemajuan yang kita peroleh dan itu bentuk dari tasyakur kita,” kata Dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Haedar Nashir mengatakan, sekarang Muhammadiyah menghadapi dinamiki baru dalam kehidupan manusia di tingkat global maupun dinamika internal dari wilayah, daerah cabang dan ranting yang memiliki kondisi beragam.

“Sehingga sejumlah pertanyaan sebagai wujud kita dalam bermuhasabah dapat dimunculkan. Pertama, kita bisa bertanya apakah jamaah di ranting, kawasan masjid, mushala dan pengajian dan berbagai aktifitas keagamaan dan kemasyarakatan di masyarakat lingkungan Muhammadiyah yang ada masih tergarap dengan baik bahkan semakin baik atau mengalami stagnasi bahkan kita teralienasi dari dinamika yang terjadi,” terang Ketua Umum PP Muhammadiyah berusia 64 tahun itu.

Menurut Haedar Nashir, pertanyaan tersebut penting untuk menjadi bahan renungan seluruh muktamirin agar bisa mengetahui kondisi yang dimiliki di tingkat basis akar rumput.

Kedua Muktamar yang lalu, Muhammadiyah punya program bagus yaitu dakwah komunitas sebagai mata rantai dakwah kultural bahkan lebih ke belakang lagi satu mata rantai dari gerakan jamaah dan dakwah jamaah tahun 1968.

“Pertanyaan kita apakah dakwah komunitas kita yang telah jadi keputusan muktamar itu betul betul jadi program terlaksana di tempat kita masing-masing. Bahkan syukur kalau ada model dari kawasan ranting, cabang dan daerah serta kawasan yang memiliki best practice dari program gerakan jamaah dan dakwah jamaah,” kata figure yang masuk Muhammadiyah sejak tahun 1983 itu.

Disampaikan Haedar Nashir, ketika saat ini warga Muhammadiyah ketika pergi ke daerah atau cabang-cabang masih suka mendengar, ada masjid tidak tergarap bahkan ada yang pindah tangan ke tempat pihak lain, maka anggota Muhammadiyah perlu bertanya seberapa jauh dakwah komunitas itu berjalan.

Dua pertanyaan ini saja sudah cukup menjadi bahan refleksi kita ditengah apa yang kita sebut dinamika kemajuan dan prestasi yang kita alami,”kata pemilik nomor anggota Muhammadiyah 545549 ini.

Menurut Haedar Nashir, Muhammadiyah sekarang diuji dalam konteks nasional dan global yang niscaya kita hadir sebagai kekuatan strategis jika orang mengatakan Muhammadiyah gerakan modern terbesar, gerakan reformis terbesar tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia, maka bagaimana Muhammadiyah hadir di tengah dinamika itu?

“Saya ingin highlight sedikit bahwa Muhammadiyah memang punya tradisi besar yang punya produkifitas sebagai organisasi yang sejak awal punya pondasi agama kokoh, sistem organisasi bagus, SDM waktu itu dianggap berkualitas dan lebih penting lagi peran-peran kemasyarakatan lewat amal usaha sudah jadi milik umum,” kata Haedar Nashir.

Dalam kontek ini, Haedar Nashir melihat Muhammadiyah perlu menyelesaikan positioning yang dimiliki, bahwa sejatinya dalam tradisi besar itu maka Muhammadiyah harus selesai dengan dirinya sendiri.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement