Ada tali juga, banyak sekali tali. Saat berlayar, Challenger membawa lebih dari 291 km tali rami Italia, cukup untuk dibentangkan dari London ke Kepulauan Channel.
Menurut Challenger Society, setiap pengukuran kedalaman lebih dari sekadar pengukuran kedalaman sederhana menggunakan tali berbobot. Ini juga adalah proses pengamatan ilmiah: Kedalaman yang tepat diukur, sampel lumpur dan air dibawa dari dasar, suhu dicatat pada serangkaian kedalaman, serta pengeruk dan penarik jaring mengumpulkan fauna.
"Challenger melakukan 362 sounding selama perjalanannya," kata Wolf. "Setiap kali mereka harus melakukannya, pengeruk juga akan diturunakn untuk menarik apa pun yang bisa diambil."
Kapal keruk itu akan menumpahkan banyak sekali lumpur ke dek kapal. Sebagiannya adalah sisa-sisa kehidupan laut yang sudah lama mati. "Sangat membosankan," kata Wolf.
Meskipun termometer ketika itu tidak setepat yang digunakan saat ini, metode yang digunakan untuk menandai suhu tinggi dan rendah di air dapat digunakan oleh para ilmuwan bahkan hingga hari ini, kata Mills.
"Pembacaannya mungkin tidak terlalu akurat tetapi tepat, jadi para ilmuwan saat ini dapat menyesuaikannya ... perbedaan antara suhu atas dan bawah sangat tepat. Itu saja pun sudah sangat berguna bagi para ilmuwan saat ini."
Pertama, Challenger berlayar ke Kepulauan Canary sebelum menyeberangi Atlantik ke Bermuda dan menyeberang lagi ke Cape Verde, sambil teralih ke Kanada. Dari Cape Verde dia menyeberangi Atlantik lagi, menyusuri pantai Brasil hingga mencapai Tristan De Cunha dekat Tanjung Harapan pada bulan Oktober 1873.
Dari sana, Challenger melintasi hamparan luas samudra Pasifik dan Hindia bagian selatan yang kosong, jauh ke selatan hingga menemukan gunung es.